Tahun 2024 menjadi perjalanan yang penuh makna bagi Komunitas Dokter Tanpa Stigma (DTS). Berbagai kegiatan edukasi, pelatihan, kolaborasi, hingga partisipasi internasional telah berhasil melibatkan lebih dari 700 partisipan dari berbagai latar belakang. Berikut adalah rangkuman perjalanan kami sepanjang tahun ini.
Kuartal 1: Tahun Baru Langkah Baru
Awal tahun dimulai dengan meningkatkan kapasitas anggota melalui pelatihan seperti Training of Facilitator for VCAT Workshop bersama IPAS Indonesia pada 26 Februari-1 Maret 2024 di Jakarta. Pelatihan ini memperkuat pemahaman peserta terkait isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), termasuk aborsi aman dan kontrasepsi.

Pelatihan berikutnya dilakukan bersama Jakarta Feminist, di mana 13 anggota DTS mendalami layanan kesehatan yang inklusif dan non-judgemental untuk korban kehamilan tidak direncanakan (KTD). Selama pelatihan yang berlangsung pada 2–6 Maret di Jakarta ini, peserta mempelajari hak asasi manusia dalam konteks kesehatan, HKSR, prinsip harm reduction, kerangka hukum pengaturan aborsi di Indonesia, serta simulasi pendampingan korban KBGS.
Di kuartal ini pun, Komunitas DTS berpartner dengan CoP (Community of Practice) sebuah jejaring kreator konten digital kesehatan reproduksi remaja dan orang muda di Indonesia di mana lima anggota DTS mendapatkan pelatihan content creator untuk kesehatan reproduksi.

Kuartal 2: Memperluas Jangkauan
Kuartal ini diawali dengan partisipasi kami dalam konferensi internasional Abortion and Reproductive Justice (ARJC) IV di Mahidol University, Thailand di bulan Maret 2024. Di acara ini, dr. Sandra Suryadana, Founder dan Managing Director Komunitas DTS, berbicara tentang layanan aborsi di Indonesia, menyoroti isu keadilan reproduksi dan perlunya reformasi dalam sistem medis nasional.
Di bulan April 2024, DTS menerima grant dari Indika Foundation untuk melaksanakan proyek GenSetDamai (Generasi Sehat dan Damai). Program ini mendukung kesehatan mental remaja di komunitas lintas agama melalui seminar, workshop regulasi emosi, dan sesi kelompok pendukung. Kami berperan dalam membantu membangun ruang aman untuk mereka memahami dan mengelola kesehatan mental. Kegiatan yang dimulai di Gereja HKBP Sudirman ini juga berhasil direplikasi di Gereja Katolik St. Thomas Rasul Bojong, Jakarta Barat.

Kami juga mendukung proyek Telinga Hati, sebuah inisiatif inklusif untuk kesehatan mental dan HIV di Jakarta, Yogyakarta dan Bali. Telinga Hati adalah inisiatif yang digagas oleh dr. Emir Gemilang Jayaringga, salah satu anggota Komunitas DTS yang berfokus pada menciptakan lingkungan kesehatan yang inklusif bagi kelompok rentan dan populasi kunci. Inisiatif ini adalah kolaborasi dengan mitra internasional yaitu YSEALI Professional Fellowship dan Reciprocal Exchange Program dan Partnership Health Center di Amerika Serikat dan didukung oleh US Department of State dan mitra lokal seperti American Corner Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dengan menekankan keterampilan active listening, gerakan ini menggelar berbagai kegiatan seperti kampanye kesadaran kesehatan mental, pelatihan mendengarkan aktif, penyuluhan inklusivitas, dan kolaborasi dengan organisasi lain.

Di kuartal ini pun, Komunitas DTS mulai mengadakan empat pelatihan internal untuk 30 tenaga kesehatan, berfokus pada penanganan kasus kekerasan seksual. Sesi-sesi ini mencakup topik utama seperti:
- Perspektif inklusif tentang kesehatan dan hak seksual serta reproduksi (SRHR 101) dan Layanan aborsi yang aman bersama India Safe Abortion Advocates.
- Layanan medikolegal untuk penyintas KBGS bersama dr. Stephanie Renni Anindita, Sp.FM
- Manajemen klinis untuk kasus perkosaan dan kekerasan oleh pasangan intim bersama IPAS Indonesia
- Alur kerja dan pendampingan terintegrasi korban KBGS bersama Perempuan Berkisah, Samahita Foundation, LBH Apik, Kolektif Advokat untuk Keadilan Gender (KAKG)

Kuartal 3: Kolaborasi untuk Perubahan
Di kuartal ini, Komunitas DTS meluncurkan buku “Bebaskan Kami Berkontrasepsi” karya dr. Sandra Suryadana dan dr. Thiea Arantxa. Buku ini membahas isu kontrasepsi dari perspektif kesehatan, sejarah, dan hak asasi manusia. Kami sangat bangga bisa memperkenalkan buku ini di Makassar International Writers Festival pada 23 Mei 2024 dan bersama Suluh Perempuan pada 23 Juni 2024 di Jakarta.

Di akhir September, DTS menyelenggarakan Mini Festival Keadilan Reproduksi 2024 bersama Jakarta Feminist dan IPAS Indonesia. Acara yang berlangsung di STIK St. Carolus, Jakarta, ini menghadirkan berbagai aktivitas edukatif, seperti yoga, games edukasi kontrasepsi, skrining kesehatan mental, dan kelas regulasi emosi. Kegiatan ini diadakan untuk mendukung korban kekerasan seksual mendapatkan layanan kesehatan yang komprehensif.

Di tingkat internasional pada Agustus 2024, dr. Airindya Bella mengikuti Disability x SRHR Residential Training di Kuala Lumpur, membahas keterkaitan antara disabilitas dan HKSR dalam konteks keadilan sosial. Dr. Airindya Bella, salah satu anggota Komunitas DTS, mengikuti “Disability x SRHR Residential Training” yang diadakan oleh ARROW (The Asian-Pacific Resource & Research Centre for Women) bekerja sama dengan SIUMAN Collective di Kuala Lumpur. Pelatihan ini mengulik tentang keterkaitan antara disabilitas dan hak-hak kesehatan reproduksi dan seksual (HKSR/SRHR) dalam konteks keadilan sosial.
Tidak ketinggalan kami juga berpartisipasi dalam dua layanan kesehatan gratis untuk anak dengan HIV bersama Lentera Anak Pelangi di Universitas Atma Jaya.

Selain itu, Ns. Fentia Budiman dan dr. Thiea Arantxa mempresentasikan artikelnya berjudul “Pemaksaan Kontrasepsi: Menilik Kekerasan Seksual pada Disabilitas Mental dan Intelektual” Dalam Konferensi Internasional Pengetahuan dari Perempuan IV “Inovasi yang Inklusif untuk Pencegahan, Penanganan, dan Pemulihan Korban Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan” di Universitas Brawijaya, Malang pada 18 September. Presentasi ini berfokus pada inovasi inklusif dalam pencegahan, penanganan, dan pemulihan korban KBGS.
Kuartal 4: Capaian Akhir Tahun
Dua pelatihan online bersama Feminis Themis juga menjadi bagian dari perjalanan edukasi kami, Bidan Beth Resistia membahas tentang Tangguh Bencana: Kualitas Sanitasi pada Kesehatan Reproduksi dan dr. Airindya Bella membahas “Pentingnya Vaksin HPV”.
Selain itu, kami mendukung dua kegiatan CISDI, yaitu Health Inc dan PHC Fest, yang berfokus pada penguatan layanan kesehatan primer dengan menjadi pembicara dan membuka booth untuk edukasi kesehatan mental.

Komunitas DTS juga mendukung Safe Space by GWP, sebuah komunitas ruang aman untuk membangun kesehatan mental kaum muda lewat seri Instagram live membahas topik-topik kesehatan mental yang sering menjadi keprihatinan anak muda masa kini.
Peluncuran program “DTS Centang Biru” juga menjadi langkah signifikan. Fitur ini mempermudah dan meyakinkan masyarakat dalam menemukan tenaga kesehatan bebas stigma di daerahnya.
Di tingkat global di akhir November 2024, dr. Sandra Suryadana dan dr. Emir Gemilang Jayaringga terpilih sebagai perwakilan Indonesia dalam ASEAN-Australia Emerging Leadership Program. Selama delapan hari di Melbourne dan Canberra, mereka bergabung dengan 25 pemimpin muda dari ASEAN, Australia, dan Timor Leste untuk mendiskusikan tantangan kesehatan global. Program ini memberikan wawasan baru tentang pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menciptakan perubahan sesuai konteks lokal dalam mewujudkan layanan kesehatan yang inklusif.

Dan sebagai penutup tahun, Komunitas DTS berpartisipasi menjadi tim medis dalam Woman’s March Jakarta 2024.

Menuju 2025: Semangat Inklusivitas
Melalui artikel ini, Komunitas DTS mengucapkan terima kasih pada semua sahabat yang telah bersama-sama berjuang memperjuangkan layanan kesehatan yang inklusif dan bebas stigma. Dengan semangat kolaborasi, kami percaya bersama-sama kita dapat membawa perubahan besar bagi masyarakat.

Tinggalkan komentar