Dalam banyak diskusi mengenai kesetaraan gender, salah satu isu yang sering muncul adalah fenomena femisida. Diskusi ini mencakup pertanyaan tentang apakah femisida benar-benar berbeda dengan pembunuhan biasa, sehingga kita butuh menamainya dengan terma khusus dan spesifik?

Banyak yang berpendapat bahwa segala bentuk kekerasan yang mengakibatkan kematian, tanpa melihat konteksnya, adalah bagian dari ketimpangan kekuasaan yang universal, sehingga bisa saja ditangani dengan nilai dan hukum keadilan universal yang sudah ada. Dengan kata lain, bagi mereka, dunia tidak memerlukan terminologi femisida atau ideologi feminisme.
Oleh karena itu, istilah femisida sering kali masih asing atau bahkan diremehkan. Padahal, memahami dan mengakui istilah ini adalah langkah penting untuk menyoroti dimensi patriarki dalam kekerasan terhadap perempuan. Di Indonesia, femisida tidak hanya ada, tetapi juga menjadi ancaman yang sering kali terabaikan. Artikel ini akan mengupas mengapa pembunuhan perempuan harus dipahami dengan istilah khusus (femisida), dan bagaimana istilah ini penting dalam perjuangan untuk keadilan bagi perempuan.
Apa Itu Femisida?
Lembaga-lembaga dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seperti WHO dan UN Women mendefinisikan femisida sebagai pembunuhan berbasis gender, yaitu pembunuhan yang dilakukan karena mereka adalah perempuan. Menurut Komnas Perempuan, femisida mencakup tindakan yang dipengaruhi oleh superioritas, dominasi, hegemoni, dan misogini terhadap perempuan.
Pada dasarnya, femisida mengacu pada pembunuhan perempuan yang bukan hanya merupakan tindakan kriminal biasa, tetapi juga mencerminkan ketimpangan sistemik dalam masyarakat. Misalnya, pembunuhan oleh pasangan (femisida intim) sering kali dilatarbelakangi oleh kontrol berlebihan atau cemburu yang berakar pada pandangan patriarki. Hal ini berbeda dengan pembunuhan biasa yang biasanya dipicu oleh konflik ekonomi, politik, atau kriminalitas lainnya.
Mengapa Femisida Tidak Sama Dengan Pembunuhan Biasa?

Mereka yang berpendapat bahwa semua pembunuhan berakar pada ketimpangan kekuasaan sering kali mengabaikan konteks spesifik yang melatarbelakangi sebuah kasus kekerasan. Meskipun benar bahwa banyak kekerasan dan pembunuhan memang berakar pada ketimpangan kekuasaan, femisida memiliki dimensi khusus yang berkaitan langsung dengan posisi perempuan dalam struktur patriarki. Pembunuhan perempuan sering kali terjadi karena pandangan yang menganggap perempuan lebih rendah, tidak setara, dan bahkan sebagai objek yang boleh dikontrol atau dimiliki.
Baca Juga: Dear Tenaga Medis, Mari Pahami Tentang Kekerasan pada Perempuan dan Cara Pemenuhan Hak Kesehatannya
Dengan demikian, menyamakan femisida dengan pembunuhan lainnya, seperti yang terjadi dalam kekerasan berbasis ekonomi atau politik, dapat mengaburkan akar masalah. Sebagai contoh, kekerasan dalam rumah tangga yang berujung pada pembunuhan sering kali dipengaruhi oleh pandangan bahwa perempuan harus tunduk kepada kekuasaan laki-laki. Sebaliknya, pembunuhan yang terjadi dalam konflik antar geng atau kriminalitas sering kali berakar pada ketimpangan ekonomi atau politik, yang tidak terkait langsung dengan struktur gender.
Mengapa Kita Memerlukan Istilah Femisida?
Banyak orang bertanya-tanya mengapa kita perlu istilah khusus seperti femisida. Bukankah semua pembunuhan pada dasarnya adalah akibat dari ketimpangan kekuasaan?
Jawabannya adalah bahwa dengan mengenali konteks spesifik femisida, kita dapat lebih efektif mengidentifikasi akar masalah dan menemukan solusi yang tepat. Seperti halnya dalam dunia medis, jika kita tidak mengetahui penyebab dari suatu penyakit, kita tidak bisa memberikan pengobatan yang tepat. Asma dan pneumonia bakterial, meskipun keduanya melibatkan pernapasan, memiliki penyebab dan patomekanisme yang berbeda, sehingga memerlukan penanganan yang berbeda pula.
Begitu juga dalam kasus femisida, dengan memahami bahwa kekerasan ini berakar pada patriarki, kita bisa mengembangkan kebijakan yang lebih spesifik untuk melawan ketimpangan gender. Sebagai contoh, negara-negara yang telah mengakui femisida sebagai kejahatan terpisah, seperti Meksiko, memiliki kebijakan yang lebih responsif terhadap kekerasan berbasis gender, termasuk penguatan sistem hukum dan perlindungan bagi perempuan.
Apa Sebenarnya Patriarki Itu, dan Bagaimana Patriarki Berhubungan dengan Femisida?
Patriarki adalah sistem sosial di mana laki-laki memegang kekuasaan utama dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam politik, ekonomi, dan budaya. Dalam masyarakat patriarkal, perempuan sering kali dipandang sebagai inferior, baik secara biologis maupun sosial. Pandangan ini membentuk perilaku kekerasan terhadap perempuan, seperti yang terlihat dalam fenomena femisida.

Femisida bukan hanya soal seorang perempuan yang dibunuh oleh seorang laki-laki. Ia juga mencerminkan ketidaksetaraan struktural yang lebih besar, di mana perempuan dianggap sebagai makhluk yang memiliki nilai lebih rendah, yang dapat diperlakukan semena-mena, dan merupakan properti milik laki-laki. Keberadaan patriarki di balik femisida menunjukkan bahwa pembunuhan ini bukanlah kebetulan atau insiden pribadi, melainkan hasil dari sistem sosial yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih lemah dan rentan.
Baca Juga: “Rahimku, Kok Urusanmu?”: Ketika Rahim Menjadi Perdebatan Publik
Kenapa Pendekatan Universal Tidak Cukup?
Sering kali kita mendengar argumen bahwa kita harus menggunakan prinsip hukum universal yang berbasis pada keadilan dan kesejahteraan untuk menyelesaikan masalah kekerasan. Namun, pendekatan hukum universal yang hanya berfokus pada keadilan umum tanpa mempertimbangkan konteks gender sering kali gagal mengatasi masalah ini.
Menganggap femisida hanya sebagai pembunuhan biasa dapat mengaburkan dimensi patriarki yang menjadi akar masalahnya. Ibarat mengobati penyakit tanpa memahami penyebabnya, pendekatan ini tidak memberikan solusi yang efektif. Femisida adalah gejala dari struktur sosial yang lebih besar, yaitu patriarki, yang memengaruhi cara perempuan diperlakukan dalam masyarakat. Tanpa pengakuan terhadap konteks ini, upaya untuk mencegah dan menangani kekerasan berbasis gender akan selalu kurang tepat sasaran.
Misalnya, dalam banyak kasus femisida, perempuan dibunuh karena dianggap tidak memenuhi peran yang diinginkan oleh masyarakat atau oleh individu yang memiliki kekuasaan. Jika kita hanya melihatnya sebagai “pembunuhan biasa”, kita akan kehilangan kesempatan untuk mengatasi akar masalahnya: pandangan patriarkal yang merendahkan perempuan dan menganggap perempuan sebagai makhluk kelas dua. Untuk mencapainya, kita perlu solusi yang lebih spesifik, yang tidak hanya berbicara tentang hukuman, tetapi juga pendidikan, perubahan sosial, dan pemberdayaan perempuan.
Baca Juga: Mengenali dan Menangani Intimate Partner Violence (IPV) bagi Nakes

Kesimpulan: Mengapa Istilah Femisida Itu Penting
Menggunakan istilah seperti femisida bukan berarti kita menolak keadilan universal, melainkan justru upaya untuk mencapai keadilan yang lebih mendalam. Dengan mengenali bahwa kekerasan terhadap perempuan memiliki akar patriarki yang mendalam, kita bisa mengembangkan solusi yang lebih relevan dan efektif. Femisida adalah contoh dari bentuk kekerasan berbasis gender yang tidak bisa disamakan dengan kekerasan lainnya, karena ia mencerminkan ketidaksetaraan struktural yang lebih besar.
Mengabaikan perbedaan ini dan menggunakan pendekatan yang terlalu umum akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk benar-benar memahami dan mengatasi masalah yang ada. Oleh karena itu, penting untuk kita mengakui femisida sebagai fenomena yang membutuhkan perhatian khusus dan peran aktif kita semua dalam mengatasi ketimpangan gender. Sebagaimana kita tidak bisa menyembuhkan penyakit tanpa mengetahui penyebabnya, kita juga tidak akan bisa mengatasi kekerasan terhadap perempuan tanpa memahami akar dari ketidaksetaraan yang ada.
Artikel ini ditulis oleh dr. Putri Lenggo Geany, Founder Tafakkur Indonesia & Anggota Dokter Tanpa Stigma

Tinggalkan komentar