Artikel ini adalah bagian 2 dari 4 refleksi dari pelatihan VCAT KBGS untuk tenaga kesehatan di Palu yang diadakan oleh Yayasan Pribudaya, Komunitas Dokter Tanpa Stigma, dan Yayasan Philia, dengan dukungan dari Ipas Collaborative Action Fund FY25.
Kekerasan terhadap perempuan, baik fisik, seksual, psikologis maupun ekonomi, masih menjadi masalah besar di Indonesia. Namun satu pertanyaan yang sering muncul—dan seringkali disalahpahami—adalah: mengapa banyak perempuan yang tidak melapor?
Selama pelatihan VCAT (Values Clarification for Action and Transformation) untuk tenaga kesehatan di Palu pada 11–12 Mei 2025, pertanyaan ini muncul di berbagai sesi. Jawaban yang diberikan oleh peserta tidak berasal dari teori atau asumsi semata, melainkan dari pengalaman pribadi, refleksi empatik, dan diskusi yang jujur.
Baca Juga: Pelatihan VCAT untuk Tenaga Kesehatan di Palu: Refleksi Nilai dalam Layanan Kesehatan Reproduksi
Refleksi dari Cross the Line: “Saya juga korban, tapi saya tidak sadar.”
Dalam sesi Cross the Line, peserta merespons sejumlah pernyataan dengan bergerak maju jika mereka setuju atau merasa memiliki pengalaman terkait. Ketika pernyataan tentang kekerasan dibacakan, seperti: “Saya pernah mengalami kekerasan seksual atau kekerasan dalam rumah tangga.”
Beberapa peserta maju ke depan, dengan langkah ragu-ragu. Usai sesi, suasana ruang menjadi hening. Bagi sebagian, ini adalah pertama kalinya mereka menyadari bahwa pengalaman mereka sendiri termasuk bentuk kekerasan.
“Saya baru sadar bahwa suami yang memaksa berhubungan saat saya belum pulih pasca-nifas, itu juga kekerasan. Tapi waktu itu saya pikir itu normal.” — W, peserta
Pengalaman Wiwi mencerminkan betapa kuatnya budaya patriarki dan ketidakseimbangan relasi kuasa telah mengakar dalam kehidupan rumah tangga, membuat kekerasan terselubung tampak seperti bagian dari kewajaran.
“Saya pernah merasa tidak nyaman saat disentuh orang, tapi saya diam. Sekarang saya tahu, perasaan tidak nyaman itu valid.” — N, peserta
Pernyataan ini sederhana, namun mencerminkan pencapaian penting—validasi terhadap perasaan sendiri yang selama ini terabaikan.
Kesaksian mereka menyuarakan kenyataan yang lebih luas: banyak perempuan tidak melaporkan kekerasan bukan karena mereka tidak ingin, tetapi karena mereka bahkan belum memahami bahwa apa yang mereka alami adalah kekerasan. Ketidaktahuan, pembiasaan, serta proses normalisasi dalam lingkungan sosial membuat korban merasa keluhan mereka tidak sah, bahkan sebelum mereka sempat berbicara.
Kesadaran adalah langkah pertama dalam pemulihan. Dan dalam ruang yang aman ini, langkah itu akhirnya mulai diambil.

Diskusi “Reasons Why”: Ketika Diam Menjadi Satu-satunya Pilihan
Sesi Reasons Why menjadi ruang penting untuk mengurai alasan-alasan di balik diamnya para penyintas. Sesi ini menegaskan satu hal mendasar: korban tidak diam karena lemah, tapi karena dunia di sekitar mereka terlalu sering membungkam suara mereka bahkan sebelum mereka sempat berbicara.
Diam itu bukan cerminan ketidakberdayaan, melainkan respons terhadap sistem dan lingkungan sosial yang belum memberi ruang aman bagi mereka untuk bersuara.
Ketika diskusi mengarah pada pertanyaan, “Mengapa korban kekerasan tidak segera mencari bantuan?”, jawaban-jawaban yang muncul mencerminkan kompleksitas pengalaman di lapangan; pengalaman yang penuh risiko, rasa takut, dan keterbatasan akses. Para peserta mengungkap berbagai alasan yang sangat relevan:
- Takut dihakimi oleh tenaga kesehatan yang seharusnya menjadi pihak pertama yang bisa dipercaya.
- Takut keluarganya malu, karena kekerasan kerap dianggap aib yang harus disembunyikan.
- Tidak tahu harus mengadu ke mana, karena akses informasi dan layanan yang minim.
- Takut dianggap berdosa atau “mengada-ada”, terutama ketika kekerasan terjadi dalam relasi yang secara sosial dianggap sakral seperti pernikahan.
- Tidak merasa cukup penting untuk didengar, karena sejak kecil mereka diajarkan bahwa suara perempuan tidak sepenting suara orang lain.

“Kadang korban takut justru disalahkan, apalagi kalau pelakunya adalah suami. Tenaga kesehatan harus tahu cara merespons tanpa menyudutkan,” ujar salah seorang peserta, menyoroti pentingnya pelatihan empati dalam layanan kesehatan.
Sementara peserta lain menambahkan, “Perempuan terbiasa disuruh sabar, disuruh tahan, disuruh diam. Jadi ketika disakiti, diam menjadi satu-satunya hal yang ia tahu.” Ucapan ini menyentuh akar dari bagaimana budaya diam ditanamkan—bukan karena pilihan, tapi karena pembelajaran yang diwariskan secara turun-temurun.
Pernyataan-pernyataan ini membuka mata: korban bukan tidak ingin menolong diri mereka sendiri, tetapi mereka merasa tidak ada tempat yang cukup aman untuk melakukannya. Dalam struktur sosial yang sering kali menyalahkan, membungkam, dan mengabaikan, diam menjadi mekanisme bertahan. Oleh karena itu, membangun ruang yang benar-benar aman dan merangkul adalah langkah awal untuk membantu suara-suara itu kembali menemukan keberaniannya.
Empati sebagai Praktik Profesional: Perubahan Mindset Peserta
Selama pelatihan, sebuah pola menarik mulai tampak. Banyak peserta yang secara jujur dan terbuka menyadari bahwa mereka pernah berada dalam posisi menghakimi. Mereka menilai pasien atau klien bukan berdasarkan kebutuhan korban, melainkan dari sudut pandang nilai pribadi yang mereka yakini. Refleksi ini menjadi titik balik penting dalam proses pembelajaran.
Baca Juga: Kontrasepsi, Consent, dan Peran Laki-Laki: Membongkar Narasi Reproduksi dalam Rumah Tangga
“Saya pernah menyarankan korban untuk kembali ke suaminya karena saya pikir itu cara terbaik menjaga keluarga. Tapi sekarang saya sadar, itu bisa membahayakan dia,” ujar J, seorang peserta. Pengakuan ini menggambarkan dilema yang kerap dialami oleh tenaga kesehatan atau pendamping lapangan. Niat untuk membantu sering kali dibingkai oleh nilai-nilai pribadi, yang ternyata tidak selalu selaras dengan keselamatan dan kebutuhan korban.
Namun perubahan cara pandang ini tidak terjadi karena paksaan. Para peserta tidak diminta untuk meninggalkan nilai-nilai yang mereka anut atau menyangkal latar belakang budaya dan agama yang mereka yakini. Sebaliknya, mereka diajak melalui proses reflektif yang setara dan menyadari dari mana bias itu berasal. Mereka belajar untuk mendengarkan dan didengarkan secara utuh. Dalam ruang itu, mereka tidak diajari apa yang harus dipercaya, melainkan diajak memahami bagaimana keyakinan pribadi bisa memengaruhi respons terhadap korban.
Fasilitator Values Clarification and Attitude Transformation (VCAT) menekankan satu hal penting: empati adalah kunci. Tenaga kesehatan tidak harus menjadi ahli agama atau pakar psikologi untuk bisa mendukung korban. Mereka cukup hadir sebagai manusia. Manusia yang mampu mendengarkan tanpa menyela, merespons tanpa menyalahkan, dan memberi ruang tanpa menghakimi.

Dari proses ini, tumbuh kesadaran bahwa perubahan bukan tentang meninggalkan identitas, tetapi tentang membuka ruang bagi kemanusiaan. Dan dari ruang itulah, lahir pendekatan yang lebih berpihak pada korban.
Saatnya Berbenah Diri dan Checking Our Biases
Pelatihan VCAT kali ini membawa pesan penting yang menggugah: pertanyaan “mengapa perempuan tidak melapor?” tidak seharusnya diarahkan kepada korban. Pertanyaan itu seharusnya kita tujukan kepada diri kita sendiri, kepada institusi yang kita wakili, kepada sistem yang selama ini dibangun dan dijaga. Sebab diamnya korban bukan tanda kelemahan, tetapi cermin dari sistem yang belum memberi ruang aman.
Apakah ruang layanan yang kita miliki benar-benar aman untuk cerita mereka?
Apakah kita cukup sadar untuk tidak menyalahkan, baik secara langsung maupun halus?
Apakah kita sungguh-sungguh mendengarkan, bukan sekadar mendengar?

VCAT mengajak peserta untuk tidak hanya bertanya, tetapi juga mulai menjawabnya dengan tindakan. Karena dalam banyak kasus, perempuan tidak butuh diselamatkan. Mereka hanya butuh ruang yang aman untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Tugas kita adalah menciptakan ruang itu, menjaganya, dan memastikan bahwa setiap suara yang datang disambut dengan empati dan keberpihakan.
Baca Juga: Ketika Sistem yang Membunuh, Bukan Perempuan: Menilik Isu Aborsi di VCAT
Pelatihan ini bukan akhir, tetapi awal dari komitmen jangka panjang. Setelah sesi VCAT, para peserta akan mengikuti kegiatan tindak lanjut berupa follow-up workshop selama dua hari. Dalam kegiatan ini, peserta akan:
- Merefleksikan bagaimana hasil pelatihan VCAT telah mereka terapkan dalam praktik sehari-hari
- Bermain peran (roleplay) untuk memperdalam keterampilan menghadapi korban kekerasan berbasis gender dan seksual
- Mendapatkan pendalaman materi terhadap isu-isu yang masih dirasa kurang dipahami
- Menandatangani pakta integritas sebagai komitmen untuk melayani korban tanpa stigma dan diskriminasi
- Menyusun produk pembelajaran berupa konten edukatif, artikel, atau infografik
- Merancang rencana tindak lanjut sebagai bagian dari Community of Practice yang terus bergerak dan belajar bersama
Perubahan tidak terjadi dalam semalam, tetapi dengan langkah kecil yang konsisten dan berani. VCAT adalah langkah awal menuju layanan yang lebih manusiawi, lebih adil, dan lebih berpihak pada korban. Dan di setiap langkah itu, suara korban tidak lagi diabaikan—melainkan dijadikan kompas.

Tinggalkan komentar