Artikel ini adalah bagian 1 dari 5 refleksi dari tindak lanjut pelatihan VCAT KBGS untuk tenaga kesehatan di Kupang yang diadakan oleh Komunitas Dokter Tanpa Stigma berkolaborasi dengan PKBI NTT.
Pagi itu, dalam sesi pertama pelatihan follow-up VCAT Kupang, para peserta dibagi ke dalam kelompok kecil untuk membahas isu mendasar namun sering diabaikan: hak atas tubuh, khususnya bagi anak-anak. Seorang peserta mengangkat contoh sehari-hari yang dianggap wajar: anak-anak yang diminta mencium tangan orang dewasa yang tak mereka kenal, atau dibersihkan tubuhnya tanpa izin saat buang air. Awal di ruangan berubah menjadi gumam lirih yang menyadari satu hal: kita terbiasa melanggar batas tubuh anak atas nama sopan santun dan kebiasaan. Diskusi pun mengalir dari sana hangat, reflektif, dan kadang menohok.
“Selama ini saya pikir itu bagian dari pendidikan karakter,” ujar seorang peserta. “Tapi sekarang saya sadar, itu bisa jadi bentuk awal dari hilangnya rasa aman anak terhadap tubuhnya sendiri.”

Ketika Anak Tidak Punya Kuasa atas Tubuhnya
Hak atas tubuh termasuk hak untuk mengatakan “tidak” seringkali dianggap hanya relevan bagi orang dewasa. Namun pelatihan ini membuka ruang sadar kolektif bahwa anak-anak pun berhak atas tubuh mereka, dan hak itu harus dihargai sejak dini. Dalam sebuah roleplay sederhana, seorang bidan memerankan tenaga kesehatan yang akan memeriksa anak, tetapi memulai dengan bertanya, “Boleh Tante pegang tanganmu untuk periksa, ya?” Anak yang diperankan menjawab, “Tidak mau.” Di skenario itu, nakes lalu berkata, “Kalau kamu belum siap, kita tunggu sebentar ya.” Skenario yang tampak sepele ini menggugah banyak peserta. Ada yang berkaca-kaca. Ada yang mencatat dengan tergesa.
“Saya tidak pernah terpikir untuk bertanya dulu ke anak,” bisik seorang bidan dari kabupaten tetangga. “Padahal itu cara paling dasar untuk menunjukkan bahwa tubuh mereka punya otoritas.”

Secara konseptual, hak anak atas tubuhnya sendiri merupakan bagian integral dari hak anak atas perlindungan, partisipasi, dan martabat. Prinsip ini sejatinya telah diakui dalam Konvensi Hak Anak PBB, yang menekankan bahwa setiap anak memiliki hak untuk dilindungi dari perlakuan tidak manusiawi dan perlakuan yang merendahkan martabat. Namun, dalam praktik di lapangan, implementasi prinsip ini kerap terhambat oleh budaya paternalistik yang masih dominan. VCAT, dengan pendekatan reflektifnya, menghadirkan ruang aman bagi para tenaga kesehatan untuk menginterogasi ulang nilai-nilai yang selama ini dianggap ‘benar’ secara sosial namun berpotensi problematik secara etis.
Pelatihan tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi mengajak peserta untuk melakukan perjalanan batin menelusuri kembali akar keyakinan mereka, dan membuka kemungkinan transformasi nilai secara personal maupun kolektif. Apa yang terjadi di ruang pelatihan itu adalah contoh nyata dari dekonstruksi kebiasaan. Tindakan-tindakan kecil, bertanya sebelum menyentuh, menunggu ketika anak menolak, dan menghormati ekspresi tidak nyaman mulai dipahami sebagai upaya mendasar untuk membangun relasi yang sehat dan setara dengan anak. Di balik kesederhanaan tindakan itu, tersimpan pesan penting: anak-anak bukan sekadar objek asuhan, melainkan subjek yang berhak atas kendali terhadap tubuh dan pengalaman mereka.

Jika praktik semacam ini diterapkan secara konsisten, baik di fasilitas kesehatan maupun di lingkungan keluarga, maka kita sesungguhnya sedang menanamkan benih penghormatan terhadap tubuh sejak usia dini. Anak-anak belajar, melalui pengalaman langsung, bahwa kata “tidak” mereka memiliki makna dan konsekuensi. Bahwa tubuh mereka bukan milik orang lain untuk diatur sesuka hati, bahkan oleh figur otoritas seperti orang tua atau tenaga kesehatan.
Dalam jangka panjang, pendekatan ini diyakini dapat berkontribusi pada pencegahan kekerasan berbasis gender dan kekerasan seksual. Sebab banyak penyintas kekerasan mengaku bahwa pengalaman pertama kehilangan kuasa atas tubuhnya terjadi justru dalam situasi yang ‘dinormalisasi’, bahkan dianggap wajar oleh lingkungan sekitarnya. Maka, intervensi dini menjadi amat penting, bukan hanya untuk membentuk kebiasaan baik, tetapi juga untuk memutus rantai kekerasan struktural dan simbolik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Lebih dari sekadar protokol, yang ditawarkan adalah lensa baru dalam melihat anak bukan sebagai objek bimbingan semata, melainkan sebagai manusia utuh yang patut dihormati, didengar, dan dilindungi.
Peran Tenaga Kesehatan sebagai Penjaga dan Pendidik
Diskusi berkembang. Para peserta menyadari bahwa tenaga kesehatan bukan hanya pemberi layanan, tetapi juga aktor penting dalam membentuk norma sosial di komunitas. Mereka bisa menjadi pendobrak kebiasaan lama yang melemahkan suara anak, dan menggantinya dengan pendekatan yang menghargai.
Beberapa usulan konkret muncul dari kelompok diskusi:
- Mengajukan pertanyaan persetujuan sebelum menyentuh anak, seperti “Boleh Tante pegang tangan kamu?” atau “Kamu mau diukur sekarang atau nanti?”
- Mengajak orang tua memahami bahwa memberi pilihan kepada anak bukan berarti memanjakan, tapi justru membangun rasa percaya diri dan aman.
- Menyisipkan edukasi ringan tentang hak tubuh dalam sesi Posyandu atau kunjungan rumah, terutama bagi keluarga dengan anak usia dini.

Diskusi berkembang semakin mendalam ketika peserta mulai menyadari bahwa peran tenaga kesehatan melampaui batas fungsional sebagai pemberi layanan medis. Mereka tidak hanya berinteraksi dengan tubuh pasien, tetapi juga dengan nilai-nilai sosial yang melekat dalam praktik pelayanan. Tenaga kesehatan diposisikan sebagai agen perubahan yang memiliki potensi besar untuk menggeser norma-norma lama terutama yang mengabaikan hak anak atas otonomi tubuh ke arah praktik yang lebih berkeadilan dan berpihak pada perlindungan anak.
Perubahan ini bukan hanya bertumpu pada keterampilan teknis, melainkan juga pada transformasi paradigma yang lebih beretika dan sensitif terhadap hak asasi manusia. Dalam proses diskusi kelompok, para peserta mulai menyusun strategi sederhana namun transformatif. Salah satunya adalah dengan membiasakan diri mengajukan pertanyaan persetujuan sebelum melakukan intervensi fisik terhadap anak. Frasa-frasa seperti “Boleh Tante pegang tangan kamu?” atau “Kamu mau diukur sekarang atau nanti?” menjadi representasi konkrit dari pengakuan terhadap kehendak anak. Praktik ini tidak hanya memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan keinginan dan ketidakinginan, tetapi juga memperkuat pesan bahwa tubuh mereka bukan ruang publik yang bebas disentuh tanpa izin.

Peserta juga menyoroti pentingnya mengedukasi orang tua tentang nilai memberi pilihan kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Sering kali, pilihan dianggap sebagai bentuk pemanjaan, padahal secara psikologis, memberi anak ruang untuk memilih justru memperkuat rasa percaya diri dan kontrol internal mereka. Memberikan opsi seperti “Mau ganti baju sekarang atau setelah makan?” menjadi langkah kecil yang menanamkan konsep otonomi dan rasa hormat terhadap preferensi anak. Dalam jangka panjang, praktik ini membentuk anak sebagai individu yang mampu menetapkan batas dan mengidentifikasi pelanggaran terhadap tubuhnya.
Sebagai langkah lebih sistematis, usulan juga diarahkan pada penguatan pendekatan edukatif dalam layanan primer seperti Posyandu atau kunjungan rumah. Momen-momen interaksi ini dilihat sebagai ruang strategis untuk menyisipkan edukasi ringan mengenai hak atas tubuh, terutama bagi keluarga dengan anak usia dini. Tidak perlu dalam bentuk penyuluhan formal, tetapi cukup melalui dialog pendek, contoh tindakan hormat terhadap anak, dan leaflet sederhana yang bisa dibaca ulang di rumah. Dengan pendekatan yang kontekstual dan berbasis relasi, nilai-nilai ini akan lebih mudah diterima, dimaknai, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari oleh keluarga dan komunitas.

Sebuah Langkah Kecil yang Bermakna
Pelatihan VCAT bukan sekadar forum berbagi teori. Ia menjelma menjadi ruang refleksi kolektif yang menantang struktur berpikir lama dan membuka jalan menuju pemahaman baru yang lebih adil dan etis. Di dalam ruang itu, peserta tak hanya menyerap materi, tetapi turut mengalami momen dekonstruksi nilai yang selama ini diterima tanpa kritik. Salah satu nilai fundamental yang muncul dalam proses ini adalah bahwa hak asasi manusia, termasuk hak atas tubuh, tidak menunggu usia dewasa untuk diberlakukan. Hak tersebut inheren, melekat sejak lahir, dan seharusnya menjadi fondasi utama dalam perlakuan terhadap anak.
Paradigma lama yang menempatkan anak sebagai obyek pengasuhan pasif, yang tidak memiliki kapasitas untuk menetapkan batas terhadap tubuhnya, telah melanggengkan praktik-praktik yang melanggar martabat anak dengan dalih kasih sayang atau norma budaya. Pelatihan ini menggugat asumsi tersebut dengan pendekatan reflektif yang tidak menghakimi, namun tetap menuntut pertanggungjawaban moral. Kesadaran bahwa tindakan kecil seperti menyentuh tanpa izin atau memeriksa tanpa bertanya dapat berdampak panjang terhadap persepsi anak tentang tubuhnya sendiri menjadi titik balik penting dalam cara tenaga kesehatan melihat peran mereka.
Tenaga kesehatan dihadirkan sebagai pendidik nilai dan penjaga ruang aman, khususnya dalam konteks interaksi dengan anak. Dalam realitas lapangan yang sering diwarnai ketergesaan, tekanan beban kerja, dan minimnya pelatihan etika komunikasi dengan anak, pelatihan ini menunjukkan bahwa bahkan dalam keterbatasan sistemik, nilai dapat ditegakkan melalui tindakan mikro yang konsisten. Bertanya sebelum menyentuh atau menunggu kesiapan anak sebelum melakukan pemeriksaan bukanlah tindakan yang memperlambat pelayanan, melainkan bagian dari rekonstruksi budaya pelayanan kesehatan yang berpihak pada martabat manusia.

Pelatihan VCAT di Kupang juga menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak selalu lahir dari kebijakan tingkat nasional atau instruksi struktural. Ia sering bermula dari percakapan yang jujur, dari ruang-ruang kecil di mana orang dewasa dengan segala otoritas dan kuasanya berani merefleksikan relasi kuasa dengan anak. Ruang pelatihan menjadi arena politik mikro yang memperjuangkan keadilan melalui nilai kesetaraan dan penghormatan. Ia mengajarkan bahwa membela hak anak bukan berarti mengabaikan kedisiplinan, tetapi mendefinisikan ulang bentuk-bentuk pengasuhan yang tidak melukai. Dari ruang kecil di Kupang itulah, percikan kesadaran itu mulai menyebar. Kesadaran bahwa transformasi besar dimulai dari keberanian untuk mempertanyakan hal-hal kecil yang selama ini dianggap biasa.
Jika tenaga kesehatan di berbagai pelosok negeri mulai membiasakan diri untuk bertanya, mendengarkan, dan menghormati batas tubuh anak, maka bukan tidak mungkin kita sedang menyemai satu generasi baru, anak-anak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa tubuh mereka berharga, bahwa suara mereka penting, dan bahwa tidak ada yang berhak melanggarnya tanpa izin. Inilah cara kita membangun budaya yang benar-benar menghormati hak asasi manusia, sejak usia paling dini.

Tinggalkan komentar