Artikel ini adalah bagian 4 dari 5 refleksi dari tindak lanjut pelatihan VCAT KBGS untuk tenaga kesehatan di Kupang yang diadakan oleh Komunitas Dokter Tanpa Stigma berkolaborasi dengan PKBI NTT.
Sore hari menjelang penutupan pelatihan follow-up VCAT di Kupang, sesi refleksi berjalan lebih hening dari biasanya. Beberapa peserta terlihat menunduk dalam, mencatat, lalu saling bertukar pandang. Isu SOGIESC yang dibahas sehari sebelumnya masih terasa menempel kuat bukan karena istilah yang sulit, tetapi karena kesadaran baru yang muncul: kami belum siap.
Namun di tengah keheningan itu, seorang peserta angkat tangan. Dengan suara lirih ia berkata: “Kalau kita terlambat mengajarkan nilai, masyarakat akan belajar bias dari mana-mana. Mungkin kita bisa mulai dari Posyandu Remaja.” Kalimat itu menjadi titik balik diskusi hari itu. Pernyataan tersebut, yang muncul dari ruang refleksi yang nyaris sunyi, merepresentasikan sebuah momen kesadaran kritis yang sangat langka namun menentukan.

Dalam konteks pelatihan VCAT yang bertujuan menggeser paradigma dari nilai-nilai normatif ke pendekatan berbasis hak, pengakuan atas ketidaksiapan bukanlah kelemahan, melainkan pijakan awal menuju perubahan yang bermakna. Ketika peserta menyadari bahwa bias tidak muncul secara alamiah, melainkan hasil dari proses sosial yang terus-menerus direproduksi, maka pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah kita harus bertindak, tetapi kapan dan di mana kita memulainya.
Menanam Nilai Sebelum Bias Berkembang
Gagasan untuk menggunakan Posyandu Remaja sebagai medium penanaman nilai terutama terkait SOGIESC (Sexual Orientation, Gender Identity and Expression, and Sex Characteristics) merupakan langkah strategis yang menempatkan pendidikan nilai pada tataran praksis. Dalam masyarakat yang cenderung menunda pembicaraan soal seksualitas hingga terjadi krisis, remaja justru tumbuh dalam ruang-ruang kosong nilai yang dengan mudah diisi oleh narasi diskriminatif, stereotip media, dan ajaran konservatif yang tidak reflektif terhadap keragaman manusia. Di sinilah pentingnya intervensi dini: menanam nilai sebelum bias berkembang.
Penanaman nilai-nilai kesetaraan, penghormatan terhadap keragaman, dan empati lintas identitas sosial bukan sekadar materi edukasi, tetapi harus menjadi kerangka berpikir yang terintegrasi dalam seluruh pendekatan kerja di komunitas. Posyandu Remaja, yang memiliki posisi strategis di antara pendidikan formal dan informal, dapat memainkan peran kunci sebagai ruang pembelajaran kolektif. Di sinilah nilai tidak hanya diajarkan, tetapi dipraktikkan melalui dialog, permainan peran, dan relasi yang setara antara fasilitator dan peserta.
Untuk menjadikan Posyandu Remaja (Posrem) sebagai ruang transformasi nilai, dibutuhkan perubahan sistemik dalam struktur pelatihan kader dan modul intervensi. Kader remaja tidak bisa hanya dibekali dengan data prevalensi anemia atau materi tiga risiko kehamilan. Mereka harus dilatih untuk mengenali dinamika kekuasaan dalam relasi sosial, memahami konsep privilese dan marginalisasi, serta mampu memfasilitasi ruang diskusi yang aman dan suportif. Intervensi nilai tidak bisa dilakukan dengan pendekatan top-down, melainkan harus dibangun melalui relasi timbal balik yang berakar pada kepercayaan dan pengalaman hidup bersama.

Kegelisahan yang muncul dalam refleksi pelatihan bukanlah indikasi kegagalan, tetapi justru tanda keberhasilan fasilitasi dalam membuka ruang kesadaran. Ini menunjukkan bahwa transformasi nilai memerlukan ruang yang lambat, reflektif, dan berbasis afeksi. Ketika seorang peserta menyatakan bahwa bias tumbuh karena ketiadaan nilai, ia sedang menunjukkan bahwa pertarungan ideologis tidak berlangsung di ruang akademik semata, tetapi di ruang-ruang komunitas, keluarga, dan fasilitas pelayanan publik.
Menjadikan Posyandu Remaja sebagai ruang penanaman nilai juga berarti mengafirmasi bahwa remaja bukan sekadar objek binaan, tetapi subjek politik yang layak diajak berdialog. Mereka adalah generasi yang akan mengisi profesi pelayanan, membuat kebijakan, dan menciptakan budaya baru. Bila nilai kesetaraan ditanam sejak dini dalam konteks yang relevan dan aplikatif, maka kita sedang membangun fondasi masyarakat yang lebih adil dan berpihak pada martabat setiap orang, apa pun identitas dan ekspresinya.

Posyandu Remaja: Ruang Strategis yang Terlupakan
Posyandu Remaja, atau Posrem, selama ini lebih sering diisi dengan edukasi gizi, anemia, dan penyuluhan kesehatan reproduksi dasar. Namun siapa sangka, forum ini justru diusulkan sebagai titik awal untuk menyisipkan pendidikan gender dan seksualitas yang inklusif? Bagi peserta pelatihan, gagasan ini bukan hanya inovatif ia relevan dan bisa langsung dikerjakan. Di banyak daerah, anak-anak remaja dari kampung akan merantau ke kota besar seperti Kupang. Mereka akan bersentuhan dengan ekspresi gender yang berbeda, norma sosial yang lebih terbuka, dan keragaman orientasi seksual yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan cara lama.
“Kalau mereka sudah tahu sejak di kampung, mereka tidak akan kaget. Mereka bisa lebih siap, lebih bijak, dan tidak langsung menolak atau mem-bully,” ujar seorang peserta.
Gagasan untuk menjadikan Posyandu Remaja sebagai ruang strategis dalam pendidikan gender dan seksualitas yang inklusif merefleksikan urgensi reorientasi pendekatan kesehatan remaja dari yang semata-mata berbasis biomedis menuju pendekatan holistik, kontekstual, dan berbasis hak. Posyandu selama ini dipahami sebagai instrumen negara untuk mendekatkan layanan dasar ke komunitas, namun peranannya dalam membentuk kesadaran kritis remaja terhadap tubuh, relasi kuasa, dan keragaman identitas jarang disentuh. Padahal, dalam konteks Indonesia yang memiliki lanskap sosial-budaya yang sangat beragam, ruang-ruang seperti Posrem memiliki potensi besar untuk menjadi lokus pembelajaran sosial yang transformatif bukan hanya penyuluhan normatif.

Kebutuhan akan pendidikan gender dan seksualitas yang inklusif di kalangan remaja tidak bisa lagi ditunda. Remaja berada pada fase pencarian identitas dan pembentukan nilai yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Dalam banyak kasus, minimnya informasi yang akurat dan bebas bias menyebabkan remaja menginternalisasi nilai-nilai diskriminatif dan patriarkal yang justru membahayakan mereka sendiri. Ketika Posrem hanya fokus pada aspek biologis kesehatan tanpa membongkar relasi kuasa yang mendasari praktik kekerasan, ketimpangan gender, atau stigmatisasi orientasi seksual, maka peran intervensi kesehatan menjadi sangat terbatas, bahkan dapat melanggengkan ketidakadilan struktural.
Mobilitas remaja dari wilayah rural ke urban menambah urgensi ini. Proses migrasi sosial dan geografis tersebut kerap diikuti oleh benturan nilai, perjumpaan dengan keragaman ekspresi gender dan orientasi seksual, serta tantangan untuk menavigasi identitas dalam ruang sosial yang tidak selalu ramah. Tanpa pembekalan pengetahuan yang kritis dan inklusif, remaja rentan mengalami disorientasi, pengucilan, atau justru menjadi pelaku kekerasan berbasis gender. Maka, pendidikan gender dan seksualitas di tingkat Posrem tidak hanya berfungsi sebagai alat prevensi, tetapi juga sebagai strategi adaptif dalam menghadapi dinamika sosial yang semakin kompleks.
Pendekatan ini dapat memperkuat kapasitas komunitas dalam menciptakan ekosistem sosial yang suportif terhadap remaja. Kader Posrem, yang sering kali berasal dari komunitas itu sendiri, memiliki kedekatan kultural dan sosial dengan peserta, yang membuat pesan-pesan inklusif lebih mudah diterima. Namun hal ini tentu menuntut penguatan kapasitas kader secara serius bukan hanya dalam hal pengetahuan teknis, tetapi juga dalam hal perspektif gender, hak asasi manusia, dan komunikasi yang non-diskriminatif. Dengan demikian, Posrem dapat menjadi ruang aman (safe space) yang tidak hanya memberi informasi, tetapi juga membentuk kesadaran kritis.
Transformasi fungsi Posrem ini juga merupakan intervensi politik dalam skala mikro. Ia menantang narasi dominan bahwa pendidikan seksualitas hanya pantas dilakukan di ruang formal dan akademik. Dengan membawa isu-isu gender dan seksualitas ke dalam forum komunitas, kita sedang menggeser wacana ini dari wilayah elitis ke wilayah rakyat. Ini merupakan langkah dekolonial yang penting, mengingat sejarah panjang kontrol negara terhadap tubuh dan seksualitas warga melalui institusi pendidikan dan kesehatan yang kerap bersifat normatif dan represif. Revitalisasi Posyandu Remaja sebagai ruang pendidikan gender dan seksualitas yang inklusif tidak hanya penting, tetapi mendesak.

Ini bukan semata soal memperluas cakupan isu dalam kegiatan komunitas, melainkan soal mendefinisikan ulang fungsi pelayanan kesehatan masyarakat dalam menjawab kebutuhan riil remaja Indonesia hari ini. Kita membutuhkan pendekatan yang tidak hanya menyasar tubuh remaja sebagai objek intervensi medis, tetapi juga sebagai subjek politik yang berhak atas pengetahuan, ruang aman, dan ekspresi yang bermartabat.
Gagasan ini lalu dijabarkan lebih lanjut oleh para peserta: edukasi gender dan seksualitas sejak remaja bukan untuk “mengubah orientasi” atau “mendorong kebebasan mutlak”, tapi untuk memberi kerangka berpikir yang lebih adil sejak dini. Anak-anak dan remaja dibekali cara memahami bahwa tidak semua orang hidup dan berpakaian seperti mereka, dan itu tidak apa-apa. Pendekatannya harus kontekstual: memakai bahasa yang bisa diterima masyarakat, membingkai materi dengan kisah, bukan ceramah. Bahkan ada peserta yang mengusulkan menggunakan cerita rakyat dengan interpretasi baru sebagai jembatan antara budaya lokal dan nilai kesetaraan.

Pun, diskusi tak berhenti di level komunitas. Beberapa peserta kemudian menyambungkan gagasan ini dengan peran mereka di fasilitas kesehatan. “Kalau remaja sudah paham soal gender, ekspresi, dan perbedaan sejak di Posrem, maka ketika mereka dewasa dan datang ke puskesmas, mereka tidak lagi takut bicara soal identitas mereka,” ucap seorang peserta tenaga kesehatan puskesmas. Pelatihan ini membangun pemahaman bahwa perubahan layanan kesehatan tidak bisa hanya terjadi di ruang klinik. Ia harus dimulai dari hulu dari cara masyarakat memahami tubuh, peran, dan perbedaan sejak remaja.
Sebuah Upaya Pencegahan Struktural
Melalui ide sederhana yang lahir dari diskusi reflektif ini, para peserta merumuskan satu visi bersama: mencegah kekerasan dan diskriminasi bukan hanya dengan sanksi atau pelatihan teknis, tetapi dengan menyemai nilai sejak muda. Posyandu Remaja, yang selama ini dianggap ruang pinggiran, kini dilihat sebagai ladang awal yang subur. Tempat di mana nilai empati, kesetaraan, dan keberagaman bisa ditanamkan sebelum bias tumbuh. Gagasan menjadikan Posyandu Remaja sebagai instrumen pencegahan struktural terhadap kekerasan dan diskriminasi menandai pergeseran penting dalam pendekatan pembangunan kesehatan dan sosial. Tidak lagi semata mengandalkan intervensi pasca-krisis atau kebijakan berbasis sanksi, pendekatan ini menempatkan nilai sebagai fondasi utama dalam membentuk masyarakat yang lebih adil dan setara.
Nilai tidak hanya menjadi komponen etis, tetapi dikonstruksikan sebagai intervensi preventif yang terintegrasi dalam sistem layanan dasar. Di sinilah letak kekuatan strategi ini: menggeser arah kebijakan publik dari responsif menjadi transformatif. Ruang komunitas seperti Posyandu Remaja sebagai medium pendidikan nilai, peserta pelatihan VCAT secara tidak langsung sedang menantang dominasi pendekatan teknokratis dalam kebijakan pelayanan publik. Mereka membayangkan ulang Posrem bukan sebagai ekstensi pasif dari sistem kesehatan, tetapi sebagai arena pedagogis yang hidup, di mana nilai-nilai progresif dapat ditumbuhkan melalui partisipasi aktif dan relasi horizontal antar warga. Ini merupakan bentuk praksis dari apa yang oleh Paulo Freire disebut sebagai conscientization, proses penyadaran kritis yang memungkinkan subjek memahami dan melawan struktur penindasan melalui refleksi kolektif.
Apa yang terjadi di Kupang bukan sekadar pelatihan, melainkan proses artikulasi ulang relasi antara pengetahuan, kekuasaan, dan praktik kesehatan. Di tengah keterbatasan struktural dan resistensi nilai konservatif yang masih kuat, para peserta menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari undang-undang atau konferensi internasional. Ia bisa tumbuh dari percakapan-percakapan kecil yang jujur, dari keberanian mengakui ketidaktahuan, dan dari kesediaan untuk mendengar. Dalam percakapan itulah benih-benih transformasi struktural ditanam di kampung-kampung, di ruang posyandu, di hati remaja yang sedang tumbuh.


Tinggalkan komentar