DISCLAIMER: Artikel ini bertujuan untuk edukasi. Jangan melakukan self-diagnosis tanpa menemui tenaga profesional. Jika Anda merasa membutuhkan bantuan medis, segera kontak fasilitas kesehatan terdekat.
Kisah nyata kehidupan John Nash, seorang ahli matematika dari Amerika, yang telah dibuat dalam bentuk film dengan judul A Beautiful Mind, sungguh merupakan salah satu kisah yang sangat menginspirasi. Ia mengalami gangguan kejiwaan yang disebut skizofrenia, dan di balik gangguan kejiwaan yang ia alami, ia tetap dapat memiliki banyak pencapaian besar. Pada usianya yang ke-22, ia sudah mendapatkan gelar doktorat dari Princeton University. Ia juga mendapat penghargaan Nobel dalam bidang Ekonomi pada tahun 1994 untuk hasil karyanya tentang teori permainan. Ia juga memberikan banyak kontribusi pada bidang matematika sepanjang hidupnya.
Skizofrenia, yang John Nash alami, merupakan salah satu gangguan psikotik yang paling banyak ditemui di masyarakat. Gangguan psikotik adalah gangguan pada kemampuan seseorang dalam menilai realita. Seseorang yang mengalami gangguan psikotik akan kesulitan dalam membedakan situasi yang benar terjadi di kehidupan nyatanya dan yang tidak terjadi secara nyata. Bentuk gangguan psikotik ada bermacam-macam, termasuk skizofrenia, skizoafektif, gangguan waham menetap, gangguan psikotik akut, gangguan waham terinduksi, dan gangguan psikotik lainnya.
Skizofrenia: Mulai dari Halusinasi, Waham, Sampai Gangguan Kognitif
Orang dengan skizofrenia mengalami gangguan dalam menilai realita yang dapat dilihat dengan adanya distorsi pada pikiran atau persepsinya akan dunia atau dirinya, pada perasaannya, ataupun perilakunya. Menurut data dari WHO, skizofrenia dialami oleh sekitar 24 juta orang di seluruh dunia. Pada orang dewasa, didapati 1 dari 222 orang mengalami kondisi ini. Skizofrenia memiliki beberapa gejala yang khas dalam bentuk gejala positif, negatif, kognitif dan afektif.
Gejala positif yaitu gejala yang tidak dapat ditemui pada orang pada umumnya, dapat berupa halusinasi atau waham atau proses pikir yang kacau.
Halusinasi adalah gangguan pada persepsi seseorang yang dapat terjadi dalam berbagai bentuk sesuai panca inderanya.
Ada halusinasi pendengaran yaitu orang tersebut mendengar suara yang tidak dapat didengar oleh orang lain. Suara ini bisa menyuruh untuk melakukan sesuatu atau mengomentari atau dapat pula berupa suara beberapa orang yang berbincang-bincang.
Selain halusinasi pendengaran, terdapat pula halusinasi penglihatan yaitu melihat sesuatu yang tidak ada secara realita, halusinasi taktil yaitu merasakan perabaan atau sensasi yang bergerak di kulit, halusinasi penciuman yaitu mencium bau yang tidak ada (seperti bau busuk atau bau kemenyan atau bau lainnya yang tidak sesuai), serta halusinasi pengecapan yaitu merasakan rasa yang berbeda di mulut. Halusinasi tentu saja berbeda dengan hal-hal gaib. Halusinasi timbul dari dalam diri penderitanya dan memiliki dasar penyebab biologis di otak. Halusinasi juga mengganggu kehidupan sehari-hari, baik dalam pendidikan, pekerjaan ataupun kehidupan sosial penderitanya.
Selain halusinasi, gejala yang umum dialami orang dengan skizofrenia adalah waham.
Waham adalah gangguan pada isi pikiran seseorang, yaitu berupa adanya keyakinan yang keliru yang tetap dipertahankan walaupun sudah diberikan bukti-bukti yang menyangkal keyakinannya tersebut. Keyakinan ini juga tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan kebudayaan penderitanya. Bentuknya ada banyak, seperti keyakinan memiliki kehebatan atau kemampuan khusus, keyakinan akan dijahati atau dicelakai oleh orang lain, keyakinan dikontrol oleh kekuatan atau orang lain, pikirannya tersiar dan dapat dibaca orang lain, keyakinan akan pembicaraan orang lain atau di media komunikasi merujuk pada dirinya, dll.
Gejala lainnya yang terdapat pada skizofrenia adalah kekacauan pada proses pikiran.
Orang di sekitarnya bisa memiliki kesan pemikirannya tidak dapat dimengerti dan tidak logis. Misalnya, menjawab pertanyaan tidak sesuai dengan yang ditanyakan atau pembicaraan terus melompat dari satu topik ke topik lainnya yang tidak berhubungan. Selain itu, kekacauan dapat pula terjadi pada motoriknya, seperti memertahankan suatu posisi atau pose tertentu secara terus-menerus, tidak adanya respons motorik sama sekali, dll.
Tak kalah pentingnya dengan gejala positif, pada skizofrenia gejala negatif juga perlu mendapat perhatian. Gejala negatif adalah sesuatu yang biasanya ada pada orang pada umumnya, namun tidak ditemukan pada orang dengan skizofrenia. Orang yang mengalami dapat terkesan menarik diri atau kurang peduli terhadap situasi di sekitarnya, kehilangan minat pada aktivitas yang menarik, atau kehilangan motivasi dalam aktivitas sehari-hari. Selain itu, raut wajah bisa jadi kurang ekspresif atau tidak serasi dengan apa yang dibicarakan.
Selain gejala positif dan negatif, ada pula gejala afektif dan kognitif pada skizofrenia. Gejala afektif dapat berupa suasana perasaan yang cemas atau depresi, sedangkan gejala kognitif dapat berupa kesulitan untuk berpikir secara abstrak. Adanya halusinasi, waham, serta gejala-gejala lainnya yang sudah disebutkan ini tidak dapat dikatakan sebagai skizofrenia apabila tidak mengganggu fungsi dan aktivitasnya sehari-hari. Selain itu, kondisi tersebut harus dialami oleh penderitanya selama paling tidak satu bulan.
Penyebab yang Multifaktorial
Penyebab skizofrenia dapat dilihat dari aspek biologi, psikologis dan sosial.
- Dari aspek biologi, diketahui faktor genetik seperti memiliki riwayat keluarga dengan skizofrenia turut berperan. Selain itu, gangguan pada zat kimia di otak (termasuk dopamin, glutamat, serotonin dan norepinefrin) serta gangguan pada struktur otak yang dapat terjadi akibat komplikasi selama kelahiran juga bisa berperan dalam terjadinya skizofrenia.
- Aspek psikologis yang berpengaruh terhadap terjadinya skizofrenia antara lain kemampuan menghadapi masalah yang kurang baik dan pola pengasuhan yang bersifat double-bind. Pola pengasuhan double-bind merupakan kondisi yang sudah sejak lama dipertimbangkan dapat berkaitan dengan timbulnya skizofrenia. Pola pengasuhan ini ditandai dengan adanya perbedaan pola antara kedua orang tua dalam cara mendidik anak, termasuk dalam sikap, perasaan, maupun perilaku ayah dan ibu terhadap anak.
- Dari aspek sosial, lingkungan keluarga atau pertemanan, adanya riwayat trauma, dan berbagai dinamika dalam kehidupan turut berperan.
Gejala dan Perjalanan Penyakit Tiap Individu Berbeda!
Kita bisa mencoba mengenali gejala atau deteksi dini orang dengan skizofrenia dengan melihat adanya perubahan perilaku pada orang tersebut. Ia mungkin tampak tidak seperti biasa, sering terlihat ketakutan, berbicara atau tertawa sendiri, atau marah tanpa alasan yang jelas. Selain itu, bisa juga terlihat orang tersebut menghindari bertemu banyak orang, kurang ekspresif pada raut wajahnya, mengatakan hal yang tidak sesuai konteks pembicaraan, menceritakan cerita yang kurang dapat dimengerti, disertai gangguan dalam pekerjaan atau pendidikannya. Skizofrenia umumnya mulai terjadi pada usia 15-25 tahun (laki-laki) dan usia 25-35 tahun (perempuan). Apabila gejala yang serupa didapati pada orang usia lanjut, biasanya akan dipertimbangkan terlebih dahulu adanya gangguan lain di otak yang menyebabkan gejala mirip skizofrenia.
Perjalanan penyakit orang dengan skizofrenia berbeda-beda. Kondisi ini bisa terjadi hanya dalam satu periode waktu terbatas, lalu disertai pemulihan total, atau bisa pula mengalami kekambuhan setelah pulih. Selain itu, gangguan ini dapat pula terus berlangsung selama kehidupannya. Perjalanan penyakit ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu tergantung dari rutinnya meminum obat yang diberikan, lama waktu gejala di atas tidak diatasi dengan pengobatan, fungsi (sosial, pekerjaan) sebelum sakit, dukungan dari keluarga dan banyak faktor lainnya.
Stigma dan Pemasungan Masih Sering Terjadi
Penanganan awal pada kondisi skizofrenia dapat dilakukan oleh dokter umum, baik di klinik ataupun puskesmas. Namun, saat kondisinya lebih berat, sebaiknya mendapat penanganan dari seorang psikiater (dokter spesialis kedokteran jiwa). Stigma terhadap layanan psikiater maupun stigma terhadap gangguan jiwa terkadang menghambat orang dengan skizofrenia datang mencari pertolongan. Kesulitan lainnya adalah kecenderungan keluarga untuk mencari pengobatan alternatif atau tradisional terlebih dahulu. Padahal, apabila kondisi skizofrenia dapat ditangani lebih dini, perjalanan penyakit ke depannya dapat lebih baik.
Masalah lainnya yang sering terjadi adalah pemasungan yang mungkin dilakukan pihak keluarga terkait dengan kurangnya pemahaman akan kondisi yang dialami penderita. Untuk itu, pemahaman dan penjelasan tentang gangguan ini dan bahwa gangguan ini dapat diobati perlu disebarluaskan. Dengan terapi yang rutin dan adekuat, orang dengan skizofrenia ataupun gangguan psikotik lainnya diharapkan tetap dapat bekerja dan beraktivitas secara optimal.
Terapi Farmakologis dan Dukungan Keluarga Sangat Penting
Pilihan pengobatan yang tersedia juga cukup banyak, khususnya golongan obat antipsikotik. Obat mana yang diberikan akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penderita, efek samping yang dirasakan, juga biaya. Pada kondisi yang berat atau tidak membaik dengan pengobatan, terdapat pilihan terapi kejut-listrik (electroconvulsive therapy) yang dapat diberikan, namun tentunya pemberiannya dilakukan dengan pertimbangan khusus.
Selain itu, terdapat strategi tatalaksana lain yang dapat diberikan, seperti terapi vokasional, pelatihan kemampuan sosial, remediasi kognitif, dll. Psikoterapi juga diberikan untuk mendukung orang dengan skizofrenia menjalankan proses terapinya dan dapat berfungsi optimal sesuai kebutuhan dan kemampuannya. Orang dengan skizofrenia maupun keluarga juga perlu mendapatkan pemahaman tentang kondisi yang dialami, penyebab, serta tatalaksana yang diberikan.
Bentuk dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan oleh orang dengan skizofrenia maupun gangguan psikotik lainnya. Sikap dalam keluarga dapat memengaruhi kekambuhan gejala pada orang dengan skizofrenia. Misalnya, sikap menjauhi penderita akan menyebabkan mereka dapat semakin menarik diri. Sikap dalam keluarga lainnya seperti marah, memberikan kritikan secara terus-menerus, mengabaikan, menyalahkan, overprotective, atau terlalu menyalahkan diri sendiri atas kondisi penderita juga dapat ditemui dan memiliki dampak yang kurang baik pada perjalanan kondisinya.
Yang sebaiknya dilakukan dalam keluarga adalah tetap memberikan kehangatan, perhatian dan sikap empati dengan pemahaman bahwa situasi tersebut berada di luar kendali penderitanya sendiri. Keluarga juga dapat memberikan pujian untuk perilaku yang baik sekecil apapun yang dilakukan oleh mereka, misalnya saat penderita berusaha melakukan aktivitas sehari-hari yang sederhana. Keluarga juga memiliki peran untuk membantu mengawasi keteraturan minum obat maupun efek samping yang dialami penderita selama pengobatan.
Mengingat kisah John Nash di atas, menarik sekali untuk dapat memahami bahwa orang dengan skizofrenia tetap dapat berprestasi ataupun berfungsi dengan baik. Selain John Nash, masih banyak kisah orang dengan skizofrenia lainnya yang dengan rutin minum obat dan kontrol, mereka tetap dapat bekerja secara optimal. Tentunya mereka tidak berusaha sendiri, namun ada peran dari orang terdekatnya juga yang terus memberi dukungan, pengertian dan mau sama-sama berjuang. Penting diingat bahwa orang dengan skizofrenia dapat dibantu untuk pulih. Perjuangan yang dapat terasa berat, bila dilalui bersama dibantu oleh keluarga serta terapisnya, akan mungkin untuk dilewati.
Artikel ini ditulis oleh dr. Agnes Lasmono, Sp.KJ dalam rangka Hari Skizofrenia Internasional tanggal 24 Mei 2023.
Referensi:
- John F. Nash Jr. – Facts. NobelPrize.org. Nobel Prize Outreach AB 2023. Sun. 21 May 2023. https://www.nobelprize.org/prizes/economic-sciences/1994/nash/facts/
- Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. (2011). Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia.
- WHO. (2022). Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/schizophrenia
- American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.).
- Elvira, S.D. & Hadisukanto, G. (Eds). (2017). Buku Ajar Psikiatri (3rd ed). Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Tinggalkan komentar