Perubahan iklim saat ini tidak hanya berdampak terhadap meningkatnya kerusakan lingkungan di sekitar kita, tetapi juga dapat berdampak secara tidak langsung terhadap sektor kesehatan. Menurut World Health Organization (WHO), diperkirakan antara tahun 2030 dan 2050, perubahan iklim akan menyebabkan sekitar 250.000 kematian tambahan setiap tahunnya akibat malnutrisi, malaria, diare, dan penyakit akibat panas.1
Krisis iklim sangat berhubungan dengan kasus malnutrisi, melalui penurunan ketahanan pangan yang mengakibatkan berkurangnya akses masyarakat dalam mendapatkan bahan pangan untuk memenuhi gizi anak.2 Hal ini tentu saja menyebabkan ancaman stunting atau gagal tumbuh menjadi semakin sulit diatasi khususnya dalam masyarakat kelompok rentan, misalnya kelompok masyarakat dengan status ekonomi menengah ke bawah.

Mengenal Fenomena Stunting di Indonesia
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat irreversible yang dialami anak akibat gizi buruk dan infeksi berulang selama 1000 hari pertama kehidupan seorang anak.3 Seorang anak didefinisikan sebagai stunting jika tinggi badan terhadap usia (TB/U) lebih dari dua standar deviasi (> -2 SD) di bawah median Standar Pertumbuhan Anak WHO.4
Di Indonesia, prevalensi stunting saat ini turun dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di 20225, dengan target nasional penurunan prevalensi stunting menjadi 14 persen di tahun 2024.6 Penurunan angka stunting juga menjadi ambisi internasional di bawah target Sustainable Development Goal (SDG) 2.2: “By 2030, end all forms of malnutrition, including achieving, by 2025, the internationally agreed targets on stunting and wasting in children under 5 years of age….”7
Secara umum, prevalensi stunting banyak terjadi pada anak berusia di bawah 5 tahun akibat proses malnutrisi dan infeksi kronis yang tidak diberikan intervensi adekuat. Pertumbuhan dan perkembangan anak memerlukan nutrisi yang cukup untuk membantu pembentukan kognitif serta pematangan fisik sesuai usia. Dalam situasi gizi buruk berkepanjangan, tubuh tidak akan mampu mencapai perkembangan optimal, dimulai dari terhambatnya pertumbuhan fisik sehingga anak menjadi kurus dan pendek, hingga akhirnya secara alami tubuh terpaksa membatasi perkembangan otak.
Selain berdampak pada kecerdasan, anak yang mengalami stunting juga cenderung memiliki sistem metabolisme tubuh yang tidak optimal sehingga mudah sakit dan terserang penyakit kronis saat dewasa (diabetes atau obesitas).8
Dampak Krisis Iklim terhadap Keamanan Pangan Global
Pemanasan global mengakibatkan terjadinya variabilitas iklim yang ekstrem termasuk meningkatnya insidensi kekeringan maupun banjir. Hal ini membawa risiko kerusakan sistem pangan yang sistematis, mulai dari proses panen hingga pendistribusian pangan. Secara global, sekitar 80% populasi yang paling berisiko mengalami kegagalan panen dan kelaparan akibat perubahan iklim berada di daerah Afrika Sub-Sahara, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, di mana para petani merupakan kelompok sangat miskin dan memiliki kerentanan yang tinggi.9

Berdasarkan data Food and Agriculture Organization, untuk memenuhi peningkatan kebutuhan pangan akibat perubahan pola makan dan pertumbuhan populasi dunia, produksi pangan harus meningkat sebesar 60 persen pada tahun 2050.10 Hal ini semakin menambah tantangan pemenuhan kebutuhan nutrisi di setiap negara, khususnya Indonesia di tengah krisis iklim dewasa ini.
Krisis iklim yang berdampak tidak langsung terhadap keamanan pangan menempatkan anak-anak serta ibu hamil sebagai kelompok yang paling rentan mengalami malnutrisi, sehingga memberikan efek domino lainnya terhadap kualitas sumber daya manusia secara nasional, bahkan global.
Indonesia sebagai negara agraris tentu berada dalam daftar negara-negara rentan yang paling terdampak oleh perubahan iklim. Oleh karena itu, upaya penanggulangan krisis iklim saat ini harus bersifat multiperspektif dan melibatkan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan iklim di Indonesia, khususnya terkait isu keamanan pangan yang akan berdampak signifikan terhadap sektor kesehatan, dengan salah satu fokus yang paling utama adalah stunting.
Menilik Ragam Solusi yang Bisa Diupayakan
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan, telah meluncurkan strategi 11 intervensi spesifik untuk menurunkan angka stunting ke angka 14% di tahun 2024 dengan kelompok target remaja putri, ibu hamil, dan bayi.11 Pada sektor pangan, melalui dokumen Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim (PBI) 2020-2045 yang selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, Indonesia memasukkan sektor agrikultur sebagai salah satu dari empat sektor prioritas pembangunan ketahanan iklim yang berfokus pada prediksi penurunan produksi padi di beberapa provinsi di Indonesia.12 Hal ini menunjukkan adanya upaya komprehensif dan kolaboratif dalam menangani krisis iklim yang secara tidak langsung mempengaruhi dua sektor penting dalam pembangunan nasional.
Adapun upaya pencegahan dan penanggulangan stunting juga banyak dilakukan oleh masyarakat akar rumput sembari berkolaborasi dengan penyedia layanan primer seperti puskesmas.
Kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan stunting harus terus ditingkatkan, mengingat stunting merupakan salah satu ancaman utama menurunnya kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Di sisi lain, urgensi penanganan perubahan iklim juga perlu untuk melibatkan semua lapisan masyarakat dan bekerja sama lintas stakeholder. Dengan demikian, mengintegrasikan upaya pencegahan stunting dan penanganan perubahan iklim menjadi sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Melalui sinergi ini, diharapkan kita mampu menciptakan fondasi yang kokoh untuk mengatasi permasalahan stunting secara holistik di Indonesia, memperkuat ketahanan masyarakat, dan mencapai pembangunan berkelanjutan yang berfokus kepada kesejahteraan generasi mendatang.
Artikel ini ditulis oleh dr. Fithriyyah, aktivis lingkungan dan kesehatan, Regional Executive Board ASEAN Youth Forum.
REFERENCE
- World Health Organization. Climate Change. 2023. URL: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/climate-change-and-health
- Kementerian Kesehatan RI. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Data dan Informasi Dampak Perubahan Iklim Sektor Kesehatan Berbasis Bukti di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2021. ISBN 978-623-301-309-3. URL: https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/data-dan-informasi-dampak-perubahan-iklim-sektor-kesehatan-berbasis-bukti-di-indonesia/
- World Health Organization. Global Nutrition Targets 2025 Stunting Policy Brief. 2014: WHO/NMH/NHD/14.3. URL: https://www.who.int/publications/i/item/WHO-NMH-NHD-14.3
- World Health Organization. Stunting in a nutshell. 2015. URL: https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell
- Kementerian Kesehatan RI. Prevalensi Stunting di Indonesia Turun ke 21,6% dari 24,4%. 2023
- Wakil Presiden Republik Indonesia. Capai Target Penurunan Prevalensi Stunting di 2024, Wapres Tegaskan Pemanfaatan Anggaran Harus Tepat Sasaran. 2023. URL: https://www.wapresri.go.id/capai-target-penurunan-prevalensi-stunting-di-2024-wapres-tegaskan-pemanfaatan-anggaran-harus-tepat-sasaran/#:~:text=Deli%20Serdang%2C%20wapresri.go.,14%20persen%20di%20tahun%202024.
- Sustainable Development Goals. SDG 2: Targets and Indicators. 2019. URL: https://sustainingdevelopment.com/sdg2-indicators/
- Kementerian Kesehatan RI. Cegah Stunting Itu Penting. Warta Kesmas: 2018 (02). URL: Warta Kesmas: https://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Warta-Kesmas-Edisi-02-2018_1136.pdf
- World Bank. What You Need to Know About Food Security and Climate Change. 2022. URL: https://www.worldbank.org/en/news/feature/2022/10/17/what-you-need-to-know-about-food-security-and-climate-change
- Food and Agriculture Organization. Climate change and food security: risks and responses. 2015. URL: https://www.fao.org/3/i5188e/I5188E.pdf
- Kementerian Kesehatan RI. 11 Intervensi Spesifik Atasi Stunting Telah Dilaksanakan di Daerah, 2 Di Antaranya Melebihi Target. 2023. URL: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20230623/1543354/11-intervensi-spesifik-atasi-stunting-telah-dilaksanakan-di-daerah-2-di-antaranya-melebihi-target/
- Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim (Climate Resilience Development Policy) 2020-2045. (2021). Bappenas, Indonesia. URL: https://lcdi-indonesia.id/wp-content/uploads/2021/04/Buku-0_Ringkasan-Eksekutif-Dokumen-Kebijakan-Pembangunan-Berketahanan-Iklim.pdf
Tinggalkan komentar