Peringatan Pemicu: Artikel ini mengandung tema perundungan dan kekerasan seksual.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia kian dikejutkan dengan terkuaknya berbagai kasus pelanggaran etika, profesionalisme, bahkan hukum, yang dilakukan oleh (mahasiswa) tenaga kesehatan (nakes). Tengok saja beberapa kasus seperti pembuatan konten-konten media sosial yang insensitif oleh nakes,1-3 perundungan mahasiswa program pendidikan dokter spesialis (PPDS) yang merenggut nyawa almarhumah dr. Aulia Risma Lestari pada Agustus 2024,4 pemerkosaan pasien oleh mahasiswa PPDS anestesi pada Maret 2025,5 dan sederet catatan kelam lainnya di dunia kesehatan Indonesia.

Siapa yang menyangka bahwa di dalam komunitas profesi yang secara historis bercitra altruistik dan moral6 terdapat oknum yang bisa berperilaku sedemikian niretikanya? Timbullah pertanyaan berikutnya: apakah berita-berita buruk yang kian muncul hanyalah fenomena gunung es dari sebuah isu krisis identitas profesional di kalangan tenaga kesehatan?

Photo by u041fu0430u0432u0435u043b u0421u043eu0440u043eu043au0438u043d on Pexels.com

Identitas profesional dapat didefinisikan sebagai representasi diri yang dicapai setelah melewati beberapa tahapan di mana karakteristik, nilai, dan norma dari profesi dokter diinternalisasi, sehingga seorang individu dapat berpikir, bertindak, dan merasa seperti seorang dokter.7 Seiring dengan proses sosialisasi yang kompleks dan multifaktorial (Gambar 1), mahasiswa kedokteran akan perlahan berintegrasi dengan komunitas praktik kedokteran, mulai dari partisipasi perifer hingga terintegrasi penuh(Gambar 2).8 Mereka akan terpapar dan dituntut untuk menerima berbagai nilai dan norma yang berlaku dalam komunitas praktik kedokteran.9 Proses ini bersifat dinamis, berkelanjutan, kompleks, serta non-linier, yang berarti dalam perjalanannya, seorang individu bisa saja mengalami stagnansi atau regresi.

Pembentukan identitas profesional yang baik akan mendukung terciptanya individu yang mandiri, mampu mengendalikan emosi, reflektif, dan resilien.10,11 Sebaliknya, adanya gangguan dalam proses integrasi identitas profesional dengan identitas personal seorang (calon) dokter dapat menyebabkan risiko burnout yang lebih tinggi dan pengambilan keputusan yang didominasi oleh emosi dibanding logika saat mereka dihadapkan dengan situasi kompleks yang membutuhkan analisis mendalam.11-13

Gambar 1: Faktor-Faktor yang Memengaruhi Sosialisasi dalam Proses Pembentukan Identitas Profesional10
Gambar 2: Teori Pembentukan Identitas Profesional menurut Cruess et al.10

Sejak tahun 2010, Carnegie Foundation telah menyuarakan ajakan untuk dilakukannya reorientasi dalam dunia pendidikan kedokteran supaya perhatian dipusatkan tidak hanya pada pemahiran kompetensi medis belaka, namun juga untuk mendukung pengembangan identitas profesional para calon dokter.14,15 Walaupun pendidikan kedokteran sudah didesain secara formal untuk menanamkan nilai-nilai yang dianggap penting untuk dimiliki oleh seorang dokter, sebagian besar hal yang akhirnya diinternalisasi oleh mahasiswa kedokteran selama proses pendidikan bukan berasal dari kurikulum formal, melainkan dari “kurikulum tersembunyi”.16

Kurikulum tersembunyi merupakan salah satu dari tiga jenis kurikulum dalam lingkungan pembelajaran klinis selain daripada kurikulum formal dan informal.17 Kurikulum tersembunyi didefinisikan sebagai konsep sosial yang melingkupi seluruh dimensi pengalaman mahasiswa kedokteran di luar kurikulum formal.18 Kurikulum tersembunyi mencakup dua faktor, yakni faktor struktural seperti kebijakan, peraturan, dinamika kekuasaan dan tanggung jawab, serta faktor implisit seperti norma, budaya, dan kebiasaan yang berlaku di dalam lingkungan. Kurikulum tersembunyi memengaruhi pembentukan identitas profesional mahasiswa kedokteran dengan membentuk persepsi apa yang dianggap “baik” dan “buruk” oleh komunitas kedokteran.16,19

Beberapa contoh negatif dari kurikulum tersembunyi yang pernah dilaporkan oleh studi-studi terdahulu mencakup penggunaan kosa kata kasar, anggapan bahwa medical error adalah hal yang “tabu” (bukan suatu hal yang lazim terjadi), keterlambatan pengajar, budaya kompetitif, senioritas, seksisme, penganiayaan atau pelecehan terhadap pasien, tuntutan agar mahasiswa mengutamakan kecepatan dalam memeriksa dan melayani pasien, dan lain-lain.18,20-22

Photo by Jonathan Borba on Pexels.com

Perbedaan antara nilai-nilai positif yang diajarkan secara “formal” oleh institusi pendidikan kedokteran dengan apa yang mahasiswa alami secara riil di lapangan dapat memicu ketidakpahaman dan disonansi identitas profesional di dalam diri mereka.23,24 Dari segi afektif, dilema profesional seringkali dipersepsikan mahasiswa sebagai beban emosional yang dapat memicu berbagai respon emosional negatif seperti rasa frustrasi, ketidaknyamanan, kemarahan, rasa malu, kecemasan, rasa bersalah, hingga ketakutan.25-28

Ketidakberdayaan mahasiswa untuk melakukan respon yang mereka anggap “benar” akibat tekanan eksternal di luar kendali mereka dapat menimbulkan tekanan moral.29,30 Tekanan moral yang berkelanjutan berpotensi:

  • menghambat pembentukan identitas profesional mahasiswa,31,32
  • memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan,30,33
  • kecenderungan mahasiswa untuk menghindar dari situasi serupa di masa depan,27
  • mengurangi kepekaan terhadap gambaran ideal seorang dokter yang sebelumnya pernah dipelajari,30
  • menurunkan motivasi untuk menjadi seorang dokter,27
  • bahkan menyebabkan penerimaan gambaran seorang dokter yang sebenarnya tidak ideal namun dianggap lebih “realistis”.28,34

Dalam menghadapi dilema, mahasiswa kedokteran di Indonesia juga dihadapkan dengan salah satu tantangan lain, yakni budaya hierarkis dan kolektivis yang melekat dengan pendidikan kedokteran kita, seperti dilaporkan oleh Hofstede et al.35,36 Dalam budaya hierarkis dengan power distance yang tinggi, anggota komunitas cenderung menerima bahwa setiap orang memiliki “tempatnya” masing-masing tanpa perlu adanya alasan atau justifikasi yang jelas. Orang yang lebih muda “harus” menghormati figur senior seperti guru dan orangtua. Sedangkan dalam komunitas yang kolektivis, perilaku anggotanya akan cenderung mengutamakan keharmonisan bersama dan menghindari konflik.

Interaksi dalam masyarakat yang kolektivis cenderung diatur oleh nilai dan norma tradisional. Individu diharapkan untuk mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama. Salah satu contoh bentuk kolektivisme dalam konteks pembelajaran adalah kecenderungan pelajar untuk tidak mengungkapkan isi pikir mereka dalam ruang besar; mereka lebih nyaman untuk berbicara dalam forum kecil.35

Meskipun banyak dampak negatif yang ditimbulkan, dilema profesional yang kerap dihadapi mahasiswa kedokteran memiliki potensi untuk memberikan dampak yang positif. Konflik yang timbul akibat dilema profesional beserta respon emosional mendalam yang mengikuti dapat berperan dalam pembentukan identitas profesional mahasiswa kedokteran.28,37,38 Secara garis besar, role model dan mentor, serta refleksi memegang peran yang sangat signifikan dalam membantu pembentukan identitas profesional mahasiswa kedokteran.39

Role model dan mentor berperan memberikan gambaran mengenai identitas profesional yang diharapkan dari seorang dokter, serta memberikan umpan balik yang konstruktif kepada mahasiswa.40-42 Umpan balik, khususnya yang disertai dengan refleksi, dapat pembentukan identitas profesional mahasiswa, termasuk ketika mereka dihadapkan dengan role model atau pengalaman yang negatif.40,43-45 Pemberian umpan balik membantu memperjelas poin pembelajaran yang dapat dipetik dari suatu pengalaman dan menyediakan pertanyaan yang mampu memicu refleksi lebih lanjut. Hal-hal ini dapat membantu meningkatkan kemampuan refleksi, kesadaran diri, dan kepercayaan diri.43,45

Refleksi diri dapat membantu mahasiswa mengeksplorasi nilai-nilai dan pandangan yang mereka anut serta menggali lebih dalam emosi yang mereka rasakan.45-48 Hal ini dapat memfasilitasi mereka dalam menavigasi konflik yang timbul antara nilai personal dengan nilai komunitas. Refleksi terbimbing oleh mentor dapat mendukung mahasiswa dalam proses internalisasi nilai-nilai tersebut ke dalam identitas pribadi mereka dengan memberikan dukungan serta umpan balik yang sesuai.45,46,49

Sebagai kesimpulan, identitas profesional mahasiswa kedokteran adalah suatu isu yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Tidak ada satu faktor tunggal yang dapat “disalahkan” ketika terjadi pelanggaran profesionalisme yang dilakukan oleh  tenaga  kesehatan. Artikel ini menggarisbawahi signifikansi kurikulum tersembunyi dalam pembentukan identitas profesional mahasiswa kedokteran, apalagi dalam budaya yang hierarkis dan kolektivis seperti di Indonesia.

It takes a village to raise a child. Untuk bisa menciptakan generasi dokter yang “profesional”, diperlukan kerja sama dan kontribusi dari seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan kedokteran, mulai dari mahasiswa itu sendiri, teman sejawat, dosen pengajar, tenaga kesehatan di wahana pendidikan, institusi pendidikan kedokteran, organisasi profesi, hingga pemerintah. Dalam lingkungan yang kental dengan budaya hierarkis dan kolektivis, sangatlah sulit jika perubahan hanya digantungkan pada satu pihak, apalagi satu individu.

Artikel ini ditulis oleh dr. Christopher David Kurniawan, Mahasiswa Magister Ilmu Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan Universitas Gadjah Mada.

Daftar Pustaka

  1. Firdaus H. Menyoal Etika Unggahan Viral Mahasiswi Keperawatan Pasang Kateter. Kompas.id [Internet]. 2022 Jun 3 [cited 2025 Jun 4]; Available from: https://www.kompas.id/baca/nusantara/2022/06/02/pelajaran-dari-unggahan- viral-mahasiswi-keperawatan-terkait-pasang-kateter
  2. BBC News Indonesia. Konten TikTok melibatkan pasien disebut melanggar etika – Berjoget di depan ibu melahirkan dan pasien cuci darah. BBC News Indonesia [Internet]. 2023 Jan 26 [cited 2025 Jun 4]; Available from: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c4ndqjn147lo
  3. Sari HP, Galih B. Konten TikTok Persalinan Masuk Pelanggaran Sedang, dr Kevin Samuel Kena Sanksi IDI. Kompas.id [Internet]. 2021 Apr 22; Available from: https://nasional.kompas.com/read/2021/04/22/11560791/konten-tiktok- persalinan-masuk-pelanggaran-sedang-dr-kevin-samuel-kena?page=all
  4. BBC News Indonesia. PPDS: Dokter PPDS Undip diduga bunuh diri karena perundungan dan beban kerja yang berat. BBC News Indonesia [Internet]. 2024 Aug 17 [cited 2025 Jun 4]; Available from: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c8erp421xj1o
  5. Trinugroho AT. Etika Kedokteran dan Kasus Pemerkosaan oleh Mahasiswa PPDS. Kompas.id [Internet]. 2025 Apr 10 [cited 2025 Jun 4]; Available from: https://www.kompas.id/artikel/etika-kedokteran-dan-kasus-pemerkosaan-oleh- mahasiswa-ppds
  6. Cruess SR, Cruess RL. Professionalism and Medicine’s Social Contract with Society. AMA Journal of Ethics [Internet]. 2004 Apr 1 [cited 2025 Jun 4];6(4):185–8.
  7. Cruess RL, Cruess SR, Boudreau JD, Snell L, Steinert Y. Reframing Medical Education to Support Professional… : Academic Medicine. Academic Medicine [Internet]. 2014 Nov [cited 2025 Jun 19];89(11):1446–51.
  8. Lave J, Wenger E. Situated learning: Legitimate peripheral participation [Internet]. Cambridge University Press; 1991 [cited 2025 Aug 7].
  9. Wenger E. Communities of practice: Learning, meaning, and identity. New York, NY, US: Cambridge University Press; 1998. xv, 318 p. (Communities of practice: Learning, meaning, and identity).
  10. Cruess RL, Cruess SR, Boudreau JD, Snell L, Steinert Y. A schematic representation of the professional identity formation and socialization of medical students and residents: a guide for medical educators. Acad Med. 2015 Jun;90(6):718–25.
  11. Wald HS. Professional identity (trans)formation in medical education: reflection, relationship, resilience. Acad Med. 2015 Jun;90(6):701–6.
  12. Nothnagle M, Reis S, Goldman RE, Anandarajah G. Fostering Professional Formation in Residency: Development and Evaluation of the “Forum” Seminar Series. Teaching and Learning in Medicine [Internet]. 2014 Jul 3 [cited 2025 Jun 19];26(3):230–8.
  13. Yu J, Lee S, Kim M, Lim K, Chang K, Chae S. Professional self-concept and burnout among medical school faculty in South Korea: a cross-sectional study. BMC Med Educ. 2019 Jul 5;19(1):248.
  14. Jarvis-Selinger S, Pratt DD, Regehr G. Competency is not enough: integrating identity formation into the medical education discourse. Acad Med. 2012 Sep;87(9):1185–90.
  15. Nyquist JG. Educating Physicians: A Call for Reform of Medical School and Residency. J Chiropr Educ [Internet]. 2011 [cited 2025 Jun 4];25(2):193–5.
  16. Hafferty FW, Franks R. The hidden curriculum, ethics teaching, and the structure of medical education. Academic Medicine [Internet]. 1994 Nov [cited 2025 Aug 5];69(11):861.
  17. Chan MK, Snell L, Philibert I. The education avenue of the clinical learning environment: A pragmatic approach. Medical Teacher [Internet]. 2019 Apr 3 [cited 2025 Aug 5];41(4):391–7.
  18. Silveira GL, Campos LK, Schweller M, Turato ER, Helmich E, de Carvalho-Filho MA. “Speed up”! The influences of the hidden curriculum on the professional identity development of medical students. Health Professions Education [Internet]. 2019 [cited 2025 Aug 5];5(3):198–209.
  19. Hafferty FW. Beyond curriculum reform: confronting medicine’s hidden curriculum. Academic medicine [Internet]. 1998 [cited 2025 Aug 7];73(4):403–7.
  20. Murakami M, Kawabata H, Maezawa M. The perception of the hidden curriculum on medical education: an exploratory study. Asia Pac Fam Med [Internet]. 2009 [cited 2025 Aug 7];8(1):9.
  21. Lempp H, Seale C. The hidden curriculum in undergraduate medical education: qualitative study of medical students’ perceptions of teaching. Bmj [Internet]. 2004 [cited 2025 Aug 7];329(7469):770–3.
  22. Benbassat J. Undesirable features of the medical learning environment: a narrative review of the literature. Adv in Health Sci Educ [Internet]. 2013 Aug [cited 2025 Aug 7];18(3):527–36.
  23. Brainard AH, Brislen HC. Viewpoint: learning professionalism: a view from the trenches. Acad Med. 2007 Nov;82(11):1010–4.
  24. Silveira GL, Campos LKS, Schweller M, Turato ER, Helmich E, de Carvalho- Filho MA. “Speed up”! The Influences of the Hidden Curriculum on the Professional Identity Development of Medical Students. Health Professions Education [Internet]. 2019 Sep 1 [cited 2024 Dec 16];5(3):198–209.
  25. Weurlander M, Lönn A, Seeberger A, Hult H, Thornberg R, Wernerson A. Emotional challenges of medical students generate feelings of uncertainty. Medical education. 2019;53(10):1037–48.
  26. Monrouxe LV, Rees CE. “It’s just a clash of cultures”: emotional talk within medical students’ narratives of professionalism dilemmas. Adv in Health Sci Educ [Internet]. 2012 Dec [cited 2024 Sep 13];17(5):671–701.
  27. Soemantri D, Greviana N, Findyartini A, Azzahra TB, Suryoadji KA, Mustika R, et al. “To obey or not to obey” – Medical students’ response towards professional dilemmas in a hierarchical and collectivist culture. PLoS One. 2021;16(12):e0261828.
  28. Ribeiro DL, Costa M, Helmich E, Jaarsma D, de Carvalho-Filho MA. ‘I found myself a despicable being!’: Medical students face disturbing moral dilemmas. Medical Education [Internet]. 2021 [cited 2023 Dec 11];55(7):857–71.
  29. Wiggleton C, Petrusa E, Loomis K, Tarpley J, Tarpley M, O’Gorman ML, et al. Medical students’ experiences of moral distress: development of a web-based survey. Academic Medicine [Internet]. 2010 [cited 2024 Sep 27];85(1):111–7.
  30. Cho C, Ko WYK, Ngan OMY, Wong WT. Exploring Professionalism Dilemma and Moral Distress through Medical Students’ Eyes: A Mixed-Method Study. International Journal of Environmental Research and Public Health [Internet]. 2022 Jan [cited 2024 Jan 26];19(17):10487.
  31. Cruess RL, Cruess SR, Boudreau JD, Snell L, Steinert Y. A schematic representation of the professional identity formation and socialization of medical students and residents: a guide for medical educators. Acad Med. 2015 Jun;90(6):718–25.
  32. Findyartini A, Greviana N, Felaza E, Faruqi M, Zahratul Afifah T, Auliya Firdausy M. Professional identity formation of medical students: A mixed-methods study in a hierarchical and collectivist culture. BMC medical education. 2022;22(1):443– 443.
  33. Dyrbye LN, Thomas MR, Shanafelt TD. Medical student distress: causes, consequences, and proposed solutions. Mayo Clin Proc. 2005 Dec;80(12):1613– 22.
  34. Monrouxe LV, Rees CE, Dennis I, Wells SE. Professionalism dilemmas, moral distress and the healthcare student: insights from two online UK-wide questionnaire studies. BMJ Open [Internet]. 2015 May 19 [cited 2024 Nov 16];5(5):e007518.
  35. Claramita M, Findyartini A, Samarasekera DD, Nishigori H, editors. Challenges and Opportunities in Health Professions Education: Perspectives in the Context of Cultural Diversity [Internet]. Singapore: Springer Nature Singapore; 2022 [cited 2024 Nov 7].
  36. Hofstede G, Hofstede GJ, Minkov M. Culture and organizations: software of the mind, intercultural cooperation and its importance for survival. International Studies of Management & Organization. 2010;3.
  37. Helmich E, Bolhuis S, Dornan T, Laan R, Koopmans R. Entering medical practice for the very first time: emotional talk, meaning and identity development. Med Educ. 2012 Nov;46(11):1074–86.
  38. Lönn A, Weurlander M, Seeberger A, Hult H, Thornberg R, Wernerson A. The impact of emotionally challenging situations on medical students’ professional identity formation. Adv in Health Sci Educ [Internet]. 2023 Dec 1 [cited 2024 Dec 16];28(5):1557–78.
  39. Cruess SR, Cruess RL, Steinert Y. Supporting the development of a professional identity: General principles. Medical Teacher [Internet]. 2019 Jun 3 [cited 2025 Aug 7];41(6):641–9.
  40. Goldie J. The formation of professional identity in medical students: Considerations for educators. Medical Teacher [Internet]. 2012 Sep 1 [cited 2024 Jan 26];34(9):e641–8.
  41. Sharpless J, Baldwin N, Cook R, Kofman A, Morley-Fletcher A, Slotkin R, et al. The becoming: students’ reflections on the process of professional identity formation in medical education. Acad Med. 2015 Jun;90(6):713–7.
  42. Boudreau JD, Macdonald ME, Steinert Y. Affirming professional identities through an apprenticeship: insights from a four-year longitudinal case study. Acad Med. 2014 Jul;89(7):1038–45.
  43. Wong A, Trollope-Kumar K. Reflections: an inquiry into medical students’ professional identity formation. Med Educ. 2014 May;48(5):489–501.
  44. Wald HS. Professional identity (trans)formation in medical education: reflection, relationship, resilience. Acad Med. 2015 Jun;90(6):701–6.
  45. Wald HS, Reis SP, Monroe AD, Borkan JM. “The Loss of My Elderly Patient:” Interactive reflective writing to support medical students’ rites of passage. Med Teach. 2010;32(4):e178-184.
  46. Wald HS, Anthony D, Hutchinson TA, Liben S, Smilovitch M, Donato AA. Professional identity formation in medical education for humanistic, resilient physicians: pedagogic strategies for bridging theory to practice. Acad Med. 2015 Jun;90(6):753–60.
  47. Stuart E, O’Leary D, Rowntree R, Carey C, O’Rourke L, O’Brien E, et al. “Challenges in experiential learning during transition to clinical practice: A comparative analysis of reflective writing assignments during general practice, paediatrics and psychiatry clerkships.” Med Teach. 2020 Nov;42(11):1275–82.
  48. Steinauer JE, Teherani A, Mangini R, Chien J, ten Cate O, O’Sullivan P. Characterizations of motivation and identity in medical students’ reflections about challenging patient interactions. Medical teacher. 2019;41(10):1178–83.
  49. Holmes CL, Harris IB, Schwartz AJ, Regehr G. Harnessing the hidden curriculum: a four-step approach to developing and reinforcing reflective competencies in medical clinical clerkship. Adv in Health Sci Educ [Internet]. 2015 Dec 1 [cited 2024 Oct 17];20(5):1355–70.

Tinggalkan komentar