Selamat datang di Dokter Tanpa Stigma!

Dokter Tanpa Stigma/DTS adalah komunitas dan organisasi tenaga kesehatan yang bekerja untuk membangun layanan kesehatan yang lebih adil, inklusif, aman, dan bebas dari penghakiman.

Kami percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan layanan kesehatan yang menghormati martabat dan pengalaman hidupnya. Karena itu, DTS hadir untuk membantu tenaga kesehatan, komunitas, dan sistem layanan bersama-sama mengenali stigma, memperbaiki praktik, dan membangun ruang layanan yang lebih manusiawi.

Mengapa DTS Hadir?

Layanan kesehatan seharusnya menjadi ruang yang aman. Namun bagi banyak orang, terutama mereka yang sering mengalami stigma, mencari layanan kesehatan masih disertai rasa takut: takut dihakimi, ditolak, dipermalukan, atau tidak dipercaya.

DTS hadir karena stigma dalam layanan kesehatan tidak hanya muncul dari sikap individu, tetapi juga dari bahasa, prosedur, kebijakan, relasi kuasa, dan cara sistem layanan memahami pasien.

Karena itu, DTS bekerja untuk membuka ruang refleksi bagi tenaga kesehatan, membangun pembelajaran bersama komunitas, dan mendorong praktik layanan yang lebih adil, inklusif, manusiawi, dan bebas stigma.

Visi dan Misi

Visi:

Dunia kesehatan Indonesia yang setara, inklusif, dan bebas stigma

Misi:

Mengupayakan edukasi kesehatan yang inklusif dan setara bagi masyarakat dan tenaga medis khususnya tentang isu kelompok marjinal.

Terlibat aktif dalam layanan kesehatan yang inklusif dan setara khususnya untuk kelompok marjinal.

Mendorong kebijakan kesehatan yang berpihak pada kelompok marjinal

Nilai-nilai Kami

DTS bekerja dengan tiga nilai utama: kesetaraan, inklusivitas, dan anti-kekerasan. Nilai-nilai ini menjadi dasar kami dalam membangun ruang belajar, merancang program, berkolaborasi dengan komunitas, dan mendorong perubahan praktik layanan kesehatan.

Kesetaraan

Kami percaya setiap orang berhak mendapatkan layanan kesehatan yang bermartabat. Namun, akses yang adil tidak selalu berarti memperlakukan semua orang dengan cara yang sama. Setiap orang memiliki kebutuhan, hambatan, dan konteks hidup yang berbeda. Karena itu, layanan kesehatan perlu mampu merespons perbedaan tersebut secara adil.

Inklusivitas

Kami mendorong layanan kesehatan yang menghargai keberagaman tubuh, identitas, usia, pengalaman, kemampuan, kondisi kesehatan, pilihan hidup, dan latar belakang sosial seseorang. Bagi DTS, inklusivitas bukan hanya soal membuka pintu layanan, tetapi memastikan orang merasa aman, diterima, dan dihormati ketika mengaksesnya.

Anti-Kekerasan

Kami menolak segala bentuk kekerasan dalam layanan kesehatan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Kekerasan dapat muncul dalam bentuk kata-kata yang menghakimi, sikap yang merendahkan, prosedur yang tidak sensitif, pembiaran terhadap kebutuhan pasien, maupun sistem yang membuat orang semakin sulit mencari pertolongan.

Cara Kerja Kami

DTS berfokus pada tiga isu utama: HKSR, KBGS, dan Kesehatan Mental. Tiga isu ini dipilih karena stigma, moralitas, diskriminasi, dan relasi kuasa sering muncul kuat dalam layanan kesehatan yang berkaitan dengan tubuh, seksualitas, kekerasan, dan kesehatan jiwa.

Untuk mendorong perubahan, DTS bekerja melalui pelatihan reflektif, komunitas belajar profesional, reverse mentoring bersama komunitas, jejaring informasi tenaga kesehatan tanpa stigma melalui DTS Centang Biru, serta edukasi dan advokasi publik. Pendekatan ini membantu DTS membangun perubahan dari refleksi tenaga kesehatan menuju praktik layanan yang lebih adil, inklusif, aman, dan bebas stigma.

Perjalanan DTS

Dokter Tanpa Stigma lahir dari keresahan terhadap stigma dan diskriminasi yang masih terjadi dalam layanan kesehatan, terutama terhadap orang-orang yang pengalaman hidupnya sering tidak dipahami secara utuh oleh sistem layanan.

2019

DTS dimulai sebagai gerakan sosial di Instagram untuk membangun kesadaran tentang stigma dalam layanan kesehatan.

2022

DTS berkembang menjadi komunitas tenaga kesehatan yang belajar bersama untuk mendorong layanan yang lebih inklusif dan bebas stigma.

2025

DTS memperkuat bentuk kelembagaan melalui Perkumpulan Indonesia Tanpa Stigma.