Alur Perubahan DTS #3

Reverse Mentoring

Ruang belajar dua arah antara tenaga kesehatan dan komunitas untuk membangun layanan yang lebih aman, relevan, dan bebas stigma.

Apa itu Reverse Mentoring?

Reverse Mentoring adalah pendekatan belajar dua arah yang mempertemukan tenaga kesehatan dengan komunitas dan pengguna layanan, terutama kelompok yang selama ini sering mengalami stigma, diskriminasi, atau hambatan akses dalam layanan kesehatan.


Dalam ruang ini, tenaga kesehatan tidak ditempatkan sebagai satu-satunya narasumber. Sebaliknya, mereka diajak untuk mendengar secara aktif pengalaman hidup komunitas: bagaimana mereka diperlakukan di layanan kesehatan, apa yang membuat mereka merasa tidak aman, apa yang mereka butuhkan, dan praktik seperti apa yang dapat membantu mereka mengakses layanan dengan lebih bermartabat.


Bagi DTS, reverse mentoring menjadi cara untuk menantang relasi kuasa dalam pembelajaran kesehatan. Pengetahuan tidak hanya datang dari profesi, tetapi juga dari pengalaman hidup orang-orang yang selama ini paling terdampak oleh stigma dalam sistem layanan.

Mengapa
Reverse Mentoring penting?

Karena layanan kesehatan sering dirancang dari sudut pandang institusi dan profesi, sementara pengalaman pasien dan komunitas tidak selalu didengar secara serius. Reverse mentoring membantu membalik pola ini.

Apa saja yang dipelajari?

– Pengalaman komunitas saat mengakses layanan kesehatan.

– Bentuk stigma yang sering tidak terlihat oleh tenaga kesehatan.

– Bahasa, sikap, dan prosedur yang dapat membuat layanan terasa tidak aman.

– Kebutuhan komunitas dalam layanan yang lebih inklusif.

– Cara membangun komunikasi yang lebih setara dan tidak menghakimi.

Artikel terkait Reverse Mentoring