Kehamilan adalah proses panjang yang merupakan bagian dari peristiwa reproduksi, sebuah “fungsi” yang secara tradisional sering dilekatkan kepada perempuan. Padahal, sebetulnya tidak hanya perempuan yang bisa hamil dan tidak semua perempuan bisa hamil! Kehamilan sendiri merupakan sebuah pilihan yang seharusnya merupakan otonomi pemilik tubuh, dan tidak boleh dipaksakan oleh masyarakat.

Diskursus tentang rahim dan kehamilan, meskipun merupakan peristiwa biologis, ternyata tidak bisa dilepaskan dari ranah sosial dan sangat bisa mempengaruhi kondisi kehidupan sosial seseorang. Individu yang memiliki rahim seringkali terjebak dalam stigma masyarakat dan paksaan peran gender, bahkan mengalami diskriminasi dari tenaga medis ketika mencari pengobatan. Padahal, sudah sepatutnya tenaga medis memperlakukan semua orang dengan setara tanpa menghakimi orang berdasarkan gender maupun pilihan hidupnya.

Rahim Bukan Hanya Milik Perempuan, Lho!

Rahim dan berbagai organ reproduktif penyertanya seperti indung telur dan vagina adalah bagian dari ciri seksual perempuan. Dalam SOGIESC, ciri biologis ini adalah bagian dari SC (sex characteristics). Namun, perlu diingat bahwa secara biologis, kita mengenal eksistensi individu yang berada dalam spektrum interseks, atau yang sering disebut berkelamin ganda. Mereka bisa saja memiliki rahim berbarengan dengan testis. Individu interseks masih sering dipinggirkan di masyarakat karena tidak memenuhi “peran gender” sesuai norma yang ada.

Selain itu, salah satu bagian dari SOGIESC adalah GI (gender identity), yaitu kesadaran individu mengenai gender dirinya. Gender identity bersifat diverse tidak selalu harus sejalan dengan GE (gender expression) seseorang (misalnya, seseorang yang mengidentifikasi diri sebagai perempuan belum tentu suka mengenakan pakaian yang secara sosial dianggap feminin). Individu yang merasa identitas gendernya tidak sesuai dengan yang disematkan padanya sejak lahir (gender assigned at birth) disebut transgender.

Individu trans yang mengalami disforia gender seringkali akan mencari layanan kesehatan afirmasi gender dan melakukan proses transisi. Namun, tidak semua individu trans memiliki akses dan kesempatan untuk bertransisi. Ada pula individu trans yang belum bisa menjalani proses transisi hormonal maupun pembedahan karena halangan medis tertentu. Sehingga, tentunya masih ada teman-teman transpria yang mungkin masih memiliki rahim dan membutuhkan layanan kesehatan dari dokter kandungan jika memiliki keluhan medis terkait rahimnya. Bahkan individu transpria juga masih ada yang mengalami kehamilan.

Baca Juga: Pengalaman Laki-Laki Menstruasi

Fakta bahwa kepemilikan rahim tidak mutlak juga akan mempengaruhi bahasa yang digunakan dalam jurnal ilmiah agar menjadi lebih inklusif. Misalnya, ketika ada penelitian mengenai organ reproduksi, sampel penelitian yang digunakan bukan hanya “perempuan” melainkan lebih tepatnya “orang yang memiliki rahim”. Jika penelitiannya lebih spesifik lagi dalam menggambarkan fungsi organ, kita bisa menggunakan istilah-istilah seperti “people who menstruate” atau “people who give birth” (“orang yang menstruasi” atau “orang yang melahirkan”), untuk menginklusi semua sampel. Perlu diingat juga bahwa penggunaan semantik tentunya terkait erat dengan konteks tulisan!

Aduh, ribet banget pakai istilah-istilah baru, tinggal bilang ‘perempuan’ aja susah!” Nah, cara berpikir seperti ini harus kita hilangkan, ya! Karena, tidak semua perempuan bisa menstruasi dan melahirkan. Sebaliknya, tidak semua orang yang menstruasi dan melahirkan adalah perempuan. Penggunaan bahasa yang kita anggap ribet itu adalah sebuah upaya kecil kita untuk memberikan ruang aman bagi mereka yang terpinggirkan.

Proses Reproduksi yang Selalu Dilekati Stigma

Baru-baru ini, media sosial ramai membicarakan tentang proses anamnesis dokter kandungan yang menanyakan status pernikahan pasien. Di Indonesia, pertanyaan status pernikahan sebetulnya dianggap suatu bentuk “kesopanan” untuk mencari tahu faktor risiko pasien yang sudah aktif secara seksual. Meskipun sebenarnya pertanyaan ini bisa jadi tidak tepat sasaran.

Pertanyaan tersebut seringkali dilanjutkan dengan pertanyaan tentang riwayat aktivitas seksual pasien. Dengan cara bertanya yang judgmental, nada yang tendensius tidak ramah atau menggoda pasien, tentu saja hal ini bisa membuat pasien tidak nyaman. Yang salah tentu bukanlah materi pertanyaannya, melainkan proses berpikir dokter yang mentabukan extramarital sex dan menganggap rendah individu yang melakukannya, yang kemudian bermanifestasi menjadi sikap yang judgmental, tergambar dari cara si dokter bertanya.

Padahal, tenaga medis utamanya bekerja di ranah sains. Jadi, tenaga kesehatan (nakes) seharusnya menyadari bahwa menabukan sesuatu yang berisiko tinggi dan sudah jamak dilakukan di masyarakat hanya akan menambah problem dalam pekerjaan tenaga medis sendiri. Sayangnya, saat mendapat kritikan seperti ini, ternyata banyak tenaga medis yang meng-gaslight pasien-pasien ini sebagai “terlalu sensitif”. Padahal, sudah menjadi tugas tenaga medis untuk memberikan edukasi dan pemahaman, termasuk membangun empati dalam berkomunikasi dengan pasien. Seharusnya, kita bisa menanyakan hal yang “sensitif” dengan cara yang baik dan tidak menyinggung perasaan orang lain!

Baca Juga: Tenaga Medis Masih Sering Menstigma Perempuan

Di bawah hegemoni patriarki, perempuan memang sudah selalu dilekati stigma sepanjang hidupnya, mulai dari stigma peran, stigma karier, stigma penampilan, dan lain-lain. Berbagai stigma pun ikut melekat pada status reproduksi seseorang. Semua hal reproduktif yang seharusnya merupakan pilihan privat menjadi urusan publik, mulai dari kapan hamil, memilih KB, apakah mau hamil atau tidak, jarak antar kehamilan, bagaimana proses melahirkan, sampai proses menyusui dan mengurus anak.

Kehamilan adalah Pilihan dan Otonomi Individu

Identitas perempuan tidak bisa hanya direduksi menjadi aspek fungsionalnya belaka, seperti menstruasi, hamil, dan melahirkan; karena tidak semua perempuan bisa menstruasi, hamil, dan melahirkan. Mereduksi eksistensi manusia menjadi fungsi-fungsi belaka artinya tidak memandang manusia sebagai individu yang utuh secara holistik. Ada perempuan yang memiliki anomali kongenital rahim yang menyebabkan dirinya tidak bisa menstruasi dan hamil. Ada juga yang mengalami infertilitas (kemandulan) karena berbagai penyebab medis.

Kehamilan
Foto: Ryutaro Tsukata, Pexels

Belakangan ini kita mulai mengenal istilah childfree, yaitu orang yang memutuskan secara sadar untuk tidak memiliki anak. Orang yang memilih untuk childfree berbeda dengan childless, karena individu childless biasanya menginginkan anak tetapi belum mendapatkannya. Baik kelompok childless maupun childfree sering dijadikan bahan olok-olok masyarakat, karena ada stigma buruk terhadap kemandulan, serta orang yang tidak ingin memiliki anak dianggap “aneh” dan tidak sesuai norma. Padahal, keputusan untuk memiliki anak atau tidak merupakan otonomi pribadi yang tidak bisa diganggu-gugat. Individu yang menginginkan tetapi belum dikaruniai anak pun seharusnya mendapatkan empati, bukannya didiskriminasi.

Kita harus mulai belajar untuk melepas berbagai stigma yang melekat pada eksistensi dan fungsi rahim, dan mengembalikannya ke ranah privat tanpa campur tangan publik. Milikilah respek terhadap semua manusia, karena kita semua beragam dan memiliki keunikan sendiri-sendiri, mulai dari keunikan biologis, psikologis, serta sosial. Marilah kita mencoba melihat manusia secara menyeluruh tanpa menggunakan label-label yang mengkotak-kotakkan.

2 tanggapan atas ““Rahimku, Kok Urusanmu?”: Ketika Rahim Menjadi Perdebatan Publik”

  1. […] Malonka, Miranda. “‘Rahimku, Kok Urusanmu?’: Ketika Rahim Menjadi Perdebatan Publik – Dokter Tanpa Stigma.” Dokter Tanpa Stigma, https://www.facebook.com/WordPresscom, 7 Oct. 2022, https://doktertanpastigma.wordpress.com/2022/10/07/rahimku-kok-urusanmu/.  […]

    Suka

  2. Mengapa Femisida Bukan Sekadar Pembunuhan Biasa? – Dokter Tanpa Stigma Avatar

    […] Baca Juga: “Rahimku, Kok Urusanmu?”: Ketika Rahim Menjadi Perdebatan Publik […]

    Suka

Tinggalkan komentar